- Pefindo memberikan peringkat idAAA dengan outlook stable kepada BTN yang berlaku periode September 2026 hingga September 2027.
- Peringkat tertinggi tersebut didukung oleh kekuatan bisnis, likuiditas, fleksibilitas keuangan, serta dukungan yang sangat kuat dari pemerintah.
- BTN berkomitmen untuk terus berinovasi dan memperluas transformasi bisnis sambil tetap mendukung penyediaan KPR bersubsidi nasional.
Suara.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat kredit atau rating idAAA dengan outlook stable terhadap PT Bank Tabungan Negara (Persero) atau BTN.
Pefindo menilai kekuatan kredit BTN ditopang oleh bisnis, likuiditas, dan fleksibilitas keuangan yang sangat kuat. Selain itu, BTN juga mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari pemerintah.
Peringkat tersebut telah dipertahankan BTN sejak 2023 dan berlaku untuk periode 4 September 2026 hingga 1 September 2027.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan pencapaian rating tersebut menjadi bentuk kepercayaan terhadap fundamental dan ketahanan perseroan.
"Peringkat ini memacu kami untuk terus berinovasi menjaga posisi bisnis yang kuat, memperkuat likuiditas dan fleksibilitas keuangan, serta memastikan pertumbuhan bisnis BTN tetap sehat dan berkelanjutan," ujar Nixon di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
![Ilustrasi perumahan/KPR. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/05/15263-kpr-perumahan.jpg)
Meski selama ini dikenal sebagai bank spesialis Kredit Pemilikan Rumah (KPR), BTN kini tengah melakukan transformasi bisnis menuju konsep beyond mortgage.
Artinya, perseroan tidak hanya mengandalkan bisnis pembiayaan KPR, tetapi berupaya memperluas bisnis di luar segmen tersebut.
Namun, transformasi tersebut tidak membuat BTN meninggalkan perannya dalam mendukung sektor perumahan nasional.
BTN tetap menjalankan noble purpose melalui penyediaan KPR bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.
Per 30 Juni 2026, sebanyak 60 persen saham BTN dimiliki Pemerintah Indonesia melalui BPI Danantara dan BP BUMN. Sementara 40 persen saham lainnya dimiliki publik.
Kepemilikan pemerintah sekaligus memperkuat posisi BTN sebagai salah satu instrumen penting dalam menjalankan kebijakan pemerintah di sektor perumahan.
Selain mempertahankan peringkat korporasi idAAA, PEFINDO juga mempertahankan peringkat idAAA untuk Obligasi Sosial Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 BTN dengan nilai Rp300 miliar.
Sementara itu, Obligasi Subordinasi I Tahap I Tahun 2025 senilai Rp2 triliun mendapatkan peringkat idAA.
Dengan dipertahankannya rating tersebut, BTN memiliki pijakan untuk menjaga fleksibilitas keuangan sekaligus melanjutkan pertumbuhan bisnis.
Rating idAAA juga menunjukkan bahwa kekuatan kredit BTN dinilai berada pada level tertinggi, dengan kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi kewajiban keuangannya.