- OJK melaporkan bank umum waspada terhadap ketidakpastian global berkepanjangan pada triwulan III 2026.
- Indeks Orientasi Bisnis Perbankan triwulan III 2026 berada di level 56 dalam zona optimis.
- Kredit industri pengolahan tumbuh 16,85 persen secara tahunan pada Juli 2026.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai mulai mewaspadai ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Terutama, jika berlangsung dalam waktu panjang bisa berimbas ke kinerja.
Hal tersebut tercermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) OJK triwulan III 2026. Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) tercatat berada di level 56 atau masih dalam zona optimis.
OJK dalam laporannya menyebut seluruh responden bank umum menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap perkembangan kondisi global yang berpotensi berlangsung dalam jangka waktu panjang atau prolonged.
"Seluruh responden bank umum menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap perkembangan kondisi global yang berpotensi berlangsung dalam jangka waktu panjang (prolonged) dan bahkan dapat disertai risiko pemburukan yang lebih dalam," tulis OJK dalam laporan SBPO triwulan III 2026 seperti dikutip, Minggu (13/9/2026).
![OJK. [Suara.com/Angga Budhiyanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/09/20/71728-ojk.jpg)
Menurut OJK, dinamika ekonomi global tersebut dinilai dapat memberikan implikasi signifikan terhadap prospek dan kinerja perekonomian nasional ke depan.
Meski demikian, kekhawatiran tersebut belum membuat industri perbankan mengerem ekspansi. Berbagai indikator utama sektor jasa keuangan, khususnya perbankan, hingga saat ini masih menunjukkan kinerja dan ketahanan yang terjaga.
Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan yang kuat, serta likuiditas yang memadai di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global maupun domestik.
Dari sisi kinerja, tingkat optimisme perbankan bahkan tergolong tinggi. Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) tercatat sebesar 83 dan berada di zona optimis.
Responden memperkirakan penyaluran kredit tetap tumbuh seiring meningkatnya permintaan kredit serta ekspansi melalui pipeline yang telah tersedia.
Salah satu sektor yang menjadi penopang utama pertumbuhan kredit adalah industri pengolahan. Kredit ke sektor ini tumbuh 16,85 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026.
Perbankan juga memproyeksikan industri pengolahan tetap menjadi salah satu penggerak pertumbuhan kredit ke depan.
Selain kredit, penghimpunan dana masyarakat juga diperkirakan terus bertumbuh. Responden memperkirakan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap tumbuh pada triwulan III 2026.
Pertumbuhan DPK yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit turut mendorong peningkatan net cashflow perbankan.
"OJK melihat bahwa keberlanjutan kinerja perbankan memerlukan dukungan ekosistem ekonomi yang sehat, stabil, dan kondusif agar fungsi intermediasi perbankan dapat terus berjalan secara optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," tulis OJK.
Sementara dari sisi risiko, industri perbankan masih memiliki persepsi yang positif. Indeks Persepsi Risiko (IPR) tercatat sebesar 57 atau tetap berada di zona optimis.
Mayoritas responden meyakini kualitas kredit tetap terjaga. Posisi Devisa Netto (PDN) juga dinilai berada pada level rendah dengan posisi aset dan tagihan valuta asing yang lebih besar dibandingkan kewajiban valuta asing atau long position.
Risiko likuiditas Terjaga
Meski begitu, industri perbankan tetap mencermati perkembangan kondisi makroekonomi, terutama ekspektasi peningkatan inflasi dan suku bunga acuan global.
Survei SBPO triwulan III 2026 melibatkan 99 bank responden pada Juli 2026. Jumlah tersebut mewakili 97,91 persen dari total aset bank umum berdasarkan data Juni 2026.
Dengan kondisi tersebut, OJK menilai momentum pertumbuhan ekonomi nasional perlu terus dijaga melalui berbagai upaya yang mendukung stabilitas, produktivitas, dan peningkatan daya saing.
"Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, perbankan diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan serta meningkatkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan global," tulis OJK.