- Bank Indonesia mencatat Posisi Investasi Internasional Indonesia sebesar 197,4 miliar dolar AS pada kuartal II 2026.
- Penurunan kewajiban neto terjadi karena penurunan Kewajiban Finansial Luar Negeri serta peningkatan Aset Finansial Luar Negeri.
- Perkembangan Posisi Investasi Internasional tersebut dinilai tetap terjaga sehingga mampu mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada kuartal II 2026 sebesar 197,4 miliar dolar AS. Angka itu turun dibandingkan pada kuartal sebelumnya sebesar 223,0 miliar dolar AS.
Penurunan kewajiban neto tersebut terutama berasal dari turunnya posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN)dan meningkatnya Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) Indonesia.
"Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan II 2026 tetap terjaga sehingga mendukung ketahanan eksternal," ujar Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi BI dikutip Minggu (13/9/2026).
![Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny di Gedung BI, Jumat (7/11/2025). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/07/33219-direktur-eksekutif-komunikasi-bi-ramdan-denny.jpg)
Adapun,posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan II 2026 tercatat sebesar 769,0 miliar dolar AS, turun 1,9 persen secara kuartalan (qtq) dari posisi akhir kuartal I 2026 sebesar 83,7 miliar dolar AS.
Meski posisi KFLN menurun, aliran masuk modal asing melalui investasi langsung dan investasi portofolio tetap berlanjut. Kondisi tersebut mencerminkan masih terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik, inflasi yang terjaga, serta imbal hasil investasi yang menarik.
Perkembangan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh penurunan nilai instrumen keuangan domestik akibat faktor revaluasi harga dan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah.
Di sisi lain, posisi AFLN Indonesia meningkat. Pada akhir triwulan II 2026, AFLN tercatat sebesar 571,5 miliar dolar AS, naik 1,9 persen secara kuartalan dibandingkan dengan 560,7 miliar dolar AS pada akhir Kuartal I 2026.
Sebagian besar komponen AFLN mengalami peningkatan posisi, terutama pada aset investasi lainnya, investasi langsung, dan investasi portofolio.
BI juga mencatat rasio PII Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2026 sebesar 13,3 persen, lebih rendah dibandingkan dengan 15,2 persen pada triwulan I 2026.
Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia masih didominasi instrumen berjangka panjang, terutama dalam bentuk investasi langsung. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung ketahanan eksternal Indonesia. BI juga akan terus memantau potensi risiko yang berkaitan dengan kewajiban neto PII terhadap perekonomian Indonesia.
"Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek PII Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal,” pungkas Ramdan.