- Penjualan eceran Juli tumbuh 1,1% yoy, tapi minus 0,1% secara bulanan.
- BI memprakirakan pertumbuhan Agustus hanya 0,5% yoy.
- Ekspektasi penjualan Oktober 2026 dan Januari 2027 ikut menurun.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan tenaga. Artinya warga RI kini harus dua kali berpikir untuk mau berbelanja saja. Kondisi ini kemungkinan akan terus terjadi pada bulan Oktober 2026 dan Januari 2027.
Meski secara tahunan masih tumbuh pada Juli 2026, kinerja penjualan justru kembali mengalami kontraksi secara bulanan, mengindikasikan pemulihan konsumsi masyarakat masih belum solid.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 tercatat sebesar 224,9 atau tumbuh 1,1% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut memang membaik dibandingkan Juni 2026 yang masih terkontraksi 3,0% yoy.
Namun, jika dilihat secara bulanan, penjualan eceran justru turun 0,1% (month to month/mtm) pada Juli 2026. Padahal, pada bulan sebelumnya penjualan masih mampu tumbuh 0,7% mtm.
Kontraksi tersebut terjadi setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah berakhir. Bank Indonesia menyebut penurunan penjualan secara bulanan dipengaruhi oleh normalisasi permintaan setelah periode tersebut.
Sejumlah kelompok masih mampu menopang pertumbuhan penjualan secara tahunan. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tumbuh 2,4% yoy dengan indeks 318,0, sedangkan Kelompok Barang Lainnya tumbuh 5,3% yoy dengan indeks 90,6.
Kelompok Suku Cadang dan Aksesori juga masih mencatat pertumbuhan sebesar 5,1% yoy dengan indeks 148,9.
Sementara secara bulanan, pertumbuhan penjualan terutama ditopang Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi yang naik 9,6% mtm, Barang Lainnya 8,4% mtm, serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya yang tumbuh 1,6% mtm.
Meski demikian, prospek Agustus belum menunjukkan lonjakan yang berarti. Bank Indonesia memperkirakan IPR Agustus 2026 hanya tumbuh 0,5% yoy dengan indeks 224,6. Artinya, laju pertumbuhan tahunan diperkirakan kembali melambat dari 1,1% yoy pada Juli.
Pertumbuhan Agustus terutama diperkirakan ditopang oleh Suku Cadang dan Aksesori yang tumbuh 10,1% yoy serta Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,7% yoy.
Di sisi lain, sejumlah sektor masih berada dalam zona kontraksi. Penjualan Peralatan Informasi dan Komunikasi diperkirakan turun 1,7% yoy, sementara Barang Budaya dan Rekreasi terkontraksi 1,2% yoy.
Gambaran yang lebih mengkhawatirkan terlihat dari ekspektasi penjualan ke depan. Responden survei memperkirakan penjualan eceran kembali melemah pada Oktober 2026 dan Januari 2027.
Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Oktober 2026 turun menjadi 143,9 dari 148,3 pada periode sebelumnya. Sementara IEP Januari 2027 turun menjadi 158,0 dari 171,6 pada periode Desember 2026.
Penurunan ekspektasi Januari 2027 terutama dipengaruhi normalisasi permintaan setelah HBKN Natal.
Secara spasial, penjualan eceran pada Juli masih tumbuh di mayoritas kota yang disurvei. Namun, tidak semua wilayah menikmati pemulihan yang sama. Pada Agustus, misalnya, penjualan eceran Surabaya diperkirakan masih terkontraksi 5,5% yoy, sementara Banjarmasin hanya tumbuh 0,9% yoy.
Kondisi tersebut menunjukkan pemulihan penjualan eceran masih belum merata. Pertumbuhan tahunan yang kembali positif belum sepenuhnya mencerminkan konsumsi yang kuat, terlebih laju bulanan kembali masuk zona kontraksi dan ekspektasi penjualan ke depan justru melemah.
Di tengah kondisi tersebut, tekanan harga diperkirakan ikut mereda. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 tercatat 146,5, turun dari 155,2. Sementara IEH Januari 2027 berada di 166,0, lebih rendah dibandingkan 168,1 pada periode sebelumnya.