- Minat beli rumah di Jakarta dan Depok menurun pada Kuartal II 2026 berdasarkan data Pinhome.
- Kawasan penyangga seperti Bekasi, Tangerang, dan Bogor justru mencatatkan penguatan minat beli rumah.
- CEO Pinhome Dayu Dara Permata menyatakan calon pembeli kini lebih selektif menyesuaikan anggaran pada Jumat (18/9/2026).
Suara.com - Minat masyarakat untuk membeli rumah di sejumlah wilayah Jakarta dan Depok mengalami penurunan pada Kuartal II 2026. Sebaliknya, kawasan penyangga seperti Bekasi, Tangerang, dan Bogor justru mencatatkan penguatan minat beli.
Berdasarkan data Indonesia Property Market Signal Pinhome, penurunan minat membeli paling tajam terjadi di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Kota Depok. Sementara Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor mencatatkan penguatan.
Tren serupa juga terlihat di sejumlah kota di luar Jakarta. Kota Bekasi, Kota Tangerang, dan Surabaya mencatatkan peningkatan minat beli, sedangkan Kota Bandung bergerak relatif stabil.
Pinhome melihat kondisi tersebut sebagai sinyal adanya pergeseran pusat aktivitas pasar properti dari wilayah Jakarta menuju kawasan penyangga. Pergeseran tersebut berpotensi berlanjut dalam beberapa kuartal mendatang.
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengatakan calon pembeli kini semakin mempertimbangkan kesesuaian rumah dengan kebutuhan dan kemampuan anggaran.

"Calon pembeli kini lebih fokus pada properti yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka. Artinya, yang melambat bukan minat untuk membeli, melainkan proses pengambilan keputusan yang menjadi lebih terukur," ujar Dayu kepada wartawan, Jumat (18/9/2026).
Secara keseluruhan, aktivitas pasar properti residensial Indonesia pada Kuartal II 2026 menunjukkan tren yang lebih moderat. Market Signal Score tercatat 50,3 dari skala 0-100, melandai dibandingkan puncak aktivitas pada akhir 2025.
Meski aktivitas pasar melambat, kondisi pasar masih relatif stabil. Pasokan properti tetap kuat dan kecepatan transaksi mulai menunjukkan perbaikan.
Jika dilihat berdasarkan dinamika permintaan dan pasokan, koridor Bekasi, Tangerang, dan Surabaya menjadi pasar yang paling dinamis pada Kuartal II 2026. Minat beli dan jumlah listing baru di wilayah tersebut sama-sama mengalami penguatan.
Sementara itu, Jakarta Selatan mencatat pelemahan pada sisi permintaan dan pasokan. Berbeda dengan Bogor yang justru semakin kompetitif karena permintaan meningkat ketika pasokan properti menyusut.
Adapun, Bandung dan Jakarta Timur memberikan ruang negosiasi lebih besar bagi pembeli. Pasalnya, pertumbuhan pasokan di kedua wilayah tersebut melampaui peningkatan minat beli.
Perubahan minat beli tersebut juga terjadi ketika calon pembeli semakin selektif dalam mencari hunian. Aktivitas pencarian, seperti penggunaan filter, menyimpan listing, dan membagikan properti, mencatat skor 38,8/100.
Namun, minat calon pembeli untuk menghubungi agen maupun pemilik properti masih terjaga. Kondisi ini menunjukkan permintaan terhadap hunian masih ada, tetapi calon pembeli membutuhkan pertimbangan lebih matang sebelum menentukan pilihan.