- Skor Financial Fitness Index (FFI) anak muda Indonesia turun dari 40,60 menjadi 39,64 pada tahun 2026.
- Studi OCBC dan NIQ di Jakarta pada Selasa (22/9/2026) mencatat 80 persen masyarakat belum mencatat keuangan.
- Masyarakat yang memiliki dana darurat cenderung mempunyai investasi beragam seperti saham, deposito, reksa dana, dan forex.
Suara.com - Kesehatan finansial anak muda Indonesia masih menghadapi tantangan. Lantaran, meningkatnya kebutuhan hidup dan perubahan kondisi ekonomi membuat pengelolaan keuangan semakin sulit.
Hal ini tercermin dari hasil Financial Fitness Index (FFI) 2026 yang diluncurkan OCBC bersama NielsenIQ (NIQ).
Dalam studi tersebut, skor financial fitness anak muda Indonesia tercatat 39,64 pada 2026, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 40,60.
Meski demikian, penurunan skor tersebut diiringi sejumlah perkembangan positif, terutama dalam kesadaran masyarakat untuk mulai membangun kondisi keuangan yang lebih sehat.
Salah satu temuan FFI 2026 menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi dan kesiapan finansial masyarakat.
Sebanyak 55 persen masyarakat merasa perencanaan keuangan yang dilakukan saat ini dapat membawa mereka menuju kesuksesan finansial pada masa depan.
Namun, pada praktiknya, sebanyak 80 persen masyarakat belum melakukan pencatatan keuangan dan baru 27 persen yang telah memiliki dana darurat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai pentingnya kesehatan finansial masih perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.
Director Strategic Analytics & Insight NielsenIQ Indonesia Inggit Primadevi mengatakan, masyarakat masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk kebutuhan sehari-hari dan pembayaran utang.
Di sisi lain, mulai terlihat peningkatan kebiasaan menabung dan persiapan untuk masa depan.
“Studi FFI 2026 menunjukkan bahwa di tengah skor FFI yang menurun, namun terlihat kebutuhan untuk mempertahankan pemenuhan keuangan dasar masih kuat, seperti pemenuhan sehari-hari dan pembayaran utang,"ujar Inggit di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Menariknya, menurut dia, kita juga melihat semakin banyak masyarakat yang mulai membangun kebiasaan menabung dan mempersiapkan masa depan.
Inggit melihat, perkembangan tersebut menunjukkan adanya peningkatan awareness atau kesadaran finansial yang dapat menjadi modal penting bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan keuangan ke depan.
“Ini menunjukkan adanya awareness yang berkembang dan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan finansial ke depannya,” lanjutnya.
FFI 2026 juga menemukan adanya hubungan antara kepemilikan dana darurat dengan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan aset.
Mereka yang telah memiliki dana darurat cenderung memiliki investasi yang lebih beragam dan kompleks, seperti saham, deposito, reksa dana, serta forex, dibandingkan masyarakat yang belum memiliki dana darurat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketika fondasi finansial mulai terbentuk, masyarakat memiliki ruang yang lebih besar untuk memikirkan pertumbuhan aset dan mencapai tujuan finansial jangka panjang.

Personal Banking Segment Head OCBC, Lauda Muliana mengatakan, kesehatan finansial tidak hanya diukur dari jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga dari kesiapan seseorang menghadapi ketidakpastian dan kemampuan mengembangkan kekayaan sesuai tujuan.
“Bagi OCBC, sehat secara finansial bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak uang, tetapi tentang memiliki fondasi dan perencanaan yang membuat kita mampu menghadapi ketidakpastian, sekaligus memiliki ruang untuk bertumbuh,” ujar Lauda.
Dia menjelaskan, perjalanan finansial perlu dimulai dengan memahami kondisi keuangan, menentukan prioritas, membangun resilience, kemudian mengembangkan kekayaan sesuai tujuan dan profil masing-masing.
“Jadi bukan hanya tahu ilmunya, tetapi juga harus mengaplikasikannya dengan bijak dan konsisten,” katanya.
Selain dana darurat dan kebiasaan menabung, FFI 2026 menemukan bahwa masyarakat yang memiliki investasi juga cenderung lebih mampu menjalani lifestyle tanpa mengabaikan kebutuhan finansial jangka panjang.
Menurut OCBC, kondisi finansial yang sehat bukan berarti seseorang harus menghilangkan gaya hidup atau kesenangan. Yang lebih penting adalah kemampuan menentukan prioritas dan memastikan setiap pengeluaran sesuai dengan kemampuan serta tujuan finansial.
“OCBC percaya bahwa sehat secara finansial bisa berjalan beriringan dengan menikmati lifestyle. Nyala Festival ini adalah salah satu manifestasi dari OCBC, yang memperlihatkan bahwa edukasi, insight, dan perencanaan finansial bisa berjalan beriringan juga dengan lifestyle dan fun, mendorong masyarakat untuk semakin #FUNanciallyFit,” tutup Lauda.