- Mentan Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada 2025 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
- Penghentian impor beras sebesar 7 juta ton membuat harga beras global anjlok drastis dan memicu protes petani di berbagai negara produsen.
- Penurunan harga beras internasional memicu maraknya aksi penyelundupan beras ke Indonesia karena selisih keuntungan yang sangat besar.
Suara.com - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan sejumlah dampak kebijakan Indonesia yang berhenti impor beras alias swasembada beras pada 2025 lalu.
Mentan yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini mengklaim kalau keputusan itu berefek pada membuat harga beras global anjlok drastis hingga memicu gelombang protes petani di berbagai negara produsen.
Mulanya ia mengakui kalau Indonesia merupakan negara dengan produsen beras nomor empat di dunia sekaligus importir terbesar selama periode 2023-2024 dengan jumlah 7 juta ton. Namun pada 2025, RI memutuskan tak lagi impor beras.
"Karena tidak ada impor, pasti negara-negara eksportir beras dunia, Thailand, Vietnam, India, Pakistan, dan lain-lain, itu petaninya tertekan, bahkan demo. Boleh Anda baca itu petani negara lain demo. Kenapa? Karena kita importir beras terbesar dunia," ujar Amran dalam konferensi pers Penindakan Impor Ilegal Beras, Garam, dan Balpres di Kantor Bea Cukai, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Amran menjelaskan bahwa penghentian impor beras ini tidak lepas dari keberhasilan program swasembada pangan yang di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto.
Ia mengklaim torehan ini sebagai yang tercepat sepanjang sejarah dan telah mendapatkan pengakuan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO atau Food and Agriculture Organization) di bawah naungan PBB.

"Alhamdulillah di bawah kepemimpinan Bapak Presiden, Bapak Prabowo, kita diminta swasembada empat tahun tapi kita raih dalam waktu satu tahun. Dan ini adalah tercepat sepanjang sejarah. Ini bukan hanya saya, karena pemimpin kita luar biasa, fokus. Ini diakui oleh dunia, FAO. Ini produksi kita sesuai yang disampaikan oleh FAO," umbar dia.
Amran melanjutkan, hilangnya pasar Indonesia yang tadinya menyerap hingga 7 juta ton beras berimbas langsung pada jatuhnya harga beras di pasar internasional. Dari yang awalnya seharga 660 Dolar AS menjadi 368 Dolar AS per ton.
"Artinya dari Rp11.000 turun menjadi Rp5.000 di negara lain. Ada lagi yang mengatakan yang tidak paham beras, 'Lah negara lain harga beras Rp5.000?' Iya, karena Indonesia tidak impor. Dulu impor harganya Rp11.000 hingga Rp12.000, sekarang turun 300 (Dolar AS), karena Indonesia tidak impor," paparnya.
Bahkan Amran mengklaim anjloknya harga dan menumpuknya pasokan di negara-negara produsen membuat sejumlah pemimpin negara asing membujuk Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia mau kembali membuka keran impor.
Namun, permintaan tersebut ditolak demi menjaga semangat dan kesejahteraan petani dalam negeri.
"Kami sampaikan ke Bapak Presiden, 'Pak, ini tidak mungkin, karena ini melukai petani Indonesia 115 juta orang. Karena petani demotivasi kalau kita impor.'," terangnya.
Lebih lanjut Amran mengungkapkan, penurunan harga beras global akibat RI setop impor berdampak pada maraknya aksi penyelundupan beras ke Indonesia.
"Ini harga beras menggiurkan. Kalau ekspor 1 juta, selundupkan 1 juta katakanlah karena pasti ada yang lolos yang belum kelihatan, nah itu Rp 5-6 triliun untungnya. Itu kan sangat menggiurkan, karena nilainya cuma Rp5.000 di negara lain, Rp5.700 kita hitung. Sehingga Indonesia incaran karena pasar terbesar tetapi tiba-tiba swasembada," jelas Amran.