- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.861 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 24 September 2026 pagi di pasar Bloomberg.
- Pelemahan rupiah terjadi akibat penguatan dolar AS yang merespons kebijakan moneter ketat serta ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed.
- Tekanan serupa dialami hampir seluruh mata uang Asia, sementara won Korea Selatan mencatatkan penurunan paling tajam di kawasan tersebut.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami koreksi pada perdagangan Kamis (24/9/2026) pagi. Pelemahan mata uang Garuda ini sejalan dengan tren penguatan dolar AS di pasar keuangan global yang merespons kebijakan moneter ketat dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data pasar Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka turun 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp17.861 per dolar AS. Pada pekan sebelumnya, rupiah masih bertengger di posisi Rp17.818 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar domestik ini merupakan dampak langsung dari rebound yang dialami dolar AS. Pelaku pasar tengah berekspektasi bahwa The Fed masih akan melanjutkan tren kenaikan suku bunganya dalam waktu dekat.
Selain faktor moneter AS, Lukman menyebutkan bahwa kondisi geopolitik turut membayangi langkah rupiah. Fluktuasi harga minyak yang dipicu oleh keraguan Iran terhadap kemajuan perundingan damai memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik.
"Rupiah diperkirakan bergerak melemah seiring menguatnya dolar AS dan melonjaknya kembali harga minyak. Pada hari ini, rupiah diproyeksikan akan berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950," ujar Lukman.
Tekanan terhadap nilai tukar ternyata tidak hanya dialami oleh rupiah. Hampir seluruh mata uang utama di kawasan Asia terpaksa bertekuk lutut di hadapan greenback.
Pelemahan paling tajam dialami oleh won Korea Selatan yang anjlok 0,44 persen. Diikuti oleh dolar Taiwan yang turun 0,35 persen, ringgit Malaysia susut 0,25 persen, dan peso Filipina terkoreksi 0,22 persen. Baht Thailand dan dolar Singapura juga ikut melemah masing-masing sebesar 0,13 persen dan 0,08 persen.
Di sisi lain, hanya yen Jepang dan dolar Hong Kong yang mencatatkan anomali positif di Asia, dengan penguatan masing-masing sebesar 0,23 persen dan 0,12 persen.
Sinyal Kuat Suku Bunga The Fed
Di kancah global, kedigdayaan dolar AS memang sedang sulit dibendung. Melansir laporan Wall Street Journal, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, melonjak ke level tertinggi dalam delapan pekan terakhir di posisi 100,862.
Kondisi ini membuat euro dan poundsterling tertekan ke level terendahnya, masing-masing di angka USD 1,1407 dan USD 1,3287.
Keperkasaan ini dipicu oleh keputusan The Fed pekan lalu yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, disertai indikasi kuat bahwa akan ada setidaknya satu kali lagi kenaikan suku bunga pada tahun ini. Hal ini dipertegas oleh sejumlah pejabat The Fed seperti Thomas Barkin, Austan Goolsbee, dan Alberto Musalem yang mendukung langkah tersebut untuk menjinakkan inflasi yang masih kaku.
Pasar uang AS kini bahkan memperkirakan peluang sebesar 53 persen bahwa The Fed akan kembali mengerek suku bunganya sebesar 25 basis poin pada bulan Oktober mendatang.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent terpantau berada di level USD 99,25 per barel di tengah harapan adanya upaya diplomasi. Namun, pergerakan energi ini rupanya tidak mematahkan tren positif dolar AS.
Pakar strategi valuta asing dari ING, Francesco Pesole, menilai bahwa dolar AS menunjukkan ketahanan yang luar biasa kokoh di tengah fluktuasi harga energi dan dinamika pasar.
Senada dengan hal tersebut, analis dari MUFG Bank, Derek Halpenny, menegaskan bahwa momentum penguatan dolar AS diprediksi belum akan memudar dalam waktu dekat, meskipun terdapat pergerakan pada harga minyak mentah global.