- Pemerintah memerintahkan penarikan dua puluh lima merek beras fortifikasi di ritel modern per Selasa, 29 September 2026.
- Pengamat pangan Khudori menyatakan penarikan tersebut berpotensi membuat konsumen kehilangan pilihan beras dan hanya menyisakan produk Bulog.
- Khudori mengimbau konsumen agar selalu memeriksa label kemasan untuk mengetahui jenis beras yang akan dibeli.
Suara.com - Penarikan 25 merek beras yang dipersoalkan pemerintah, berpotensi membuat pilihan beras di ritel modern semakin terbatas.
Pengamat Pangan dan Pertanian sekaligus Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori menilai, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena konsumen bisa kehilangan salah satu pilihan beras yang selama ini tersedia di pasar.
Khudori mengatakan, produk beras yang ditarik berpotensi tidak lagi tersedia di ritel modern setelah pemerintah memerintahkan penarikan dan membuka kemungkinan pencabutan izin usaha maupun proses hukum terhadap produsen.
"Yang terjadi kemudian adalah, karena perintah dari otoritas adalah beras ini harus ditarik, izinnya sangat mungkin akan dicabut izin usahanya, dan akan diproses secara hukum, ya, oleh aparat penegak hukum, dugaan saya, enggak akan terlalu lama di ritel modern yang beberapa hari kemarin kita masih bisa menemukan beras fortifikasi, itu enggak akan ada lagi, hilang," jelas Khudori kepada wartawan, dikutip Selasa (29/9/2026).
Menurut Khudori, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap konsumen yang selama ini membeli beras fortifikasi di ritel modern. Konsumen berpotensi kehilangan pilihan apabila produk yang ditarik tidak segera digantikan dengan produk lain.
"Dampaknya apa? Konsumen yang selama ini bisa membeli beras fortifikasi, itu akan kehilangan beras yang kesekian kalinya," ujarnya.

Khudori mengatakan, kondisi tersebut juga dapat membuat pilihan konsumen mengerucut pada produk beras yang tersedia dari Bulog.
"Sebelumnya beras premium enggak ada, yang tersisa barangkali nanti beras SPHP punyanya Bulog dan beras premium Bulog yang dijanjikan akan digelontorkan. Itu pun kalau ada, gitu," jelas Khudori.
Ia menjelaskan, beras fortifikasi sendiri tidak selalu menggunakan bahan baku beras dengan kelas mutu yang sama. Beras fortifikasi dapat menggunakan beras premium, medium maupun submedium sehingga harga produk di pasar juga dapat berbeda.
"Karena beras fortifikasi itu bakuannya bisa macam-macam, Mas. Bisa kualifikasi mutunya bisa beras premium, bisa beras medium, bisa beras submedium. Ini harganya pasti akan berbeda-beda, gitu," ucapnya.
Karena itu, menurut Khudori, konsumen perlu memahami jenis beras yang dibeli sebelum menentukan pilihan. Selain beras fortifikasi, terdapat pula beras yang diperkaya vitamin atau mineral, beras biofortifikasi, maupun beras biasa.
Ia meminta konsumen memperhatikan informasi pada kemasan untuk mengetahui jenis beras yang dibeli.
"Yang berikutnya, saya kira buat konsumen, penting untuk selalu mengecek di label, ya. Mengecek di label, betulkah yang dibeli itu beras fortifikasi, betulkah yang dibeli itu beras diperkaya, beras biofortifikasi, atau beras biasa, gitu. Beras premium biasa, gitu," ujar Khudori.