- Kementan targetkan ekspor 10.000 ton beras ke Palestina.
- Stok beras nasional diklaim mencapai 25-26 juta ton.
- Pemerintah pastikan stok cukup hingga Juni 2027.
Suara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan pengiriman 10.000 ton beras ke Palestina melalui Perum Bulog. Ekspor tersebut dilakukan saat pemerintah menyebut stok beras nasional masih dalam kondisi aman.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pengiriman beras ke Palestina merupakan bagian dari rencana ekspor Indonesia ke sejumlah negara. Rencana tersebut juga merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Dan beberapa negara lagi melalui Bulog, akan kita ekspor beras kita, termasuk Palestina, kita kirim 10.000 ton. Ini juga salah satu kebanggaan kita dan itu perintah Bapak Presiden," kata Amran dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Amran mengatakan pemerintah memiliki stok beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dia menyebut standing crop Indonesia saat ini mencapai 3,8 juta ton, dengan produksi sekitar 10 juta ton.
Di sisi lain, pasokan beras dari sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) disebut mencapai lebih dari 10 juta ton. Sementara stok beras yang berada di Bulog berada di kisaran 5 juta ton.
Dengan perhitungan tersebut, pemerintah memperkirakan total stok beras nasional mencapai sekitar 25-26 juta ton. Jumlah itu disebut jauh di atas kebutuhan beras nasional yang mencapai sekitar 2,5-2,6 juta ton per bulan.
"Totalnya 25-26 juta ton. Kebutuhan per bulan itu 2,5 sampai 2,6 juta ton per bulan. Artinya apa? Cukup beras kita untuk 10 bulan ke depan," ujar Amran.
Dia memastikan ketersediaan beras nasional diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Juni 2027. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai pengiriman beras ke luar negeri tidak akan mengganggu pasokan domestik.
"Bulan ini (bulan) 9, 10, 11, 12, 1, 2, 3, 4, 5 sampai bulan 6 tahun depan, stok kita... Jadi sangat aman," katanya.
Selain Palestina, Amran mengungkapkan Indonesia telah melakukan ekspor beras ke Malaysia. Menurutnya, ekspor tersebut menjadi catatan penting karena Indonesia sebelumnya lebih dikenal sebagai negara yang mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
"Bukan saja stok kita aman, tapi kita sudah ekspor ke Malaysia, dan ini sejarah baru untuk Republik Indonesia," pungkas Amran.