- Gubernur Bank Indonesia menyatakan perkembangan kecerdasan artifisial mendorong penguatan kerja sama regional untuk menjaga stabilitas sistem keuangan pada Rabu (7/10/2026).
- Direktur Eksekutif SEACEN menilai interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara sangat penting guna mendukung integrasi ekonomi kawasan Asia Tenggara.
- Kepala Ekonom UNDP untuk Asia dan Pasifik menekankan pentingnya kepercayaan serta antisipasi risiko sistemik akibat ketergantungan platform kecerdasan artifisial.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) menilai perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendorong bank sentral di kawasan Asia Tenggara untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga stabilitas dan ketahanan sistem keuangan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali mengatakan, koloborasi regional dinilai semakin penting untuk membangun tata kelola AI yang terpercaya, memperkuat kapasitas pengawasan, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam sistem pembayaran dan inklusi keuangan.
"AI menghadirkan tantangan yang perlu dihadapi secara bersama oleh berbagai negara,” ujar Ricky dalam siaran pers yang diterima, Rabu (7/10/2026).
Menurut Ricky, terdapat tiga prioritas bank sentral dalam menghadapi perkembangan AI. Pertama, membangun tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel.
Kedua, memanfaatkan AI untuk membangun ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, dan berdaya tahan.
Ketiga, memperkuat kolaborasi regional melalui SEACEN, antara lain melalui dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset bersama.
“AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi satu negara sendiri. Melalui kolaborasi di kawasan, seperti SEACEN, kita dapat mengembangkan pendekatan bersama yang mendorong inovasi sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan,” beber Ricky.
Ricky juga menekankan pentingnya pembelajaran dan pertukaran pengalaman antarnegara dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Menurut dia, pengetahuan dan pengalaman bersama menjadi semakin penting bagi bank sentral dalam merespons perubahan teknologi.
“Seiring dengan semakin cepatnya transformasi teknologi, pengetahuan dan pengalaman bersama akan semakin berharga dalam membentuk masa depan bank sentral,” tutur Ricky.
Sementara itu, Direktur Eksekutif The SEACEN Centre, Cynyoung Park menyoroti, pentingnya interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara dalam mendukung integrasi ekonomi kawasan.
Menurut Cynyoung, keterhubungan antarsistem pembayaran perlu didukung standar dan pengaturan yang kompatibel. Selain itu, diperlukan pula kerangka pengelolaan likuiditas dan risiko penyelesaian transaksi yang jelas.
Penguatan fondasi tersebut dinilai dapat mendukung perluasan konektivitas pembayaran untuk perdagangan dan investasi regional.
Sementara itu, Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik, Philip Schellekens menekankan, pentingnya kepercayaan sebagai fondasi peran bank sentral di tengah perkembangan AI.
Schellekens mengatakan bank sentral perlu memahami perubahan yang ditimbulkan AI terhadap perekonomian dan teknologi.
"Bank sentral ju,ga perlu mengantisipasi risiko sistemik yang dapat muncul akibat ketergantungan pada penyedia platform AI tertentu," imbuhnya.
![Kepala BI Sumsel, Ricky Gozali [dok]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/06/18/86491-kepala-bi-sumsel-ricky-gozali.jpg)
Menurut dia, kepercayaan menjadi fondasi utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas sekaligus memastikan pemanfaatan AI dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan bank sentral serta mitra internasional untuk meningkatkan kesiapan kawasan dalam membangun ekosistem keuangan yang inovatif, aman, inklusif, dan berdaya tahan.