Suara.com - Sebanyak 16 perempuan dari Kelompok Wanita Tani Desa Kawasi, ibu-ibu majelis ta’lim, dan ibu-ibu majelis gereja di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, mengikuti Sekolah Ladang pada Kamis (24/9/2026).
Dalam kegiatan ini, para peserta mempelajari berbagai jenis tanaman hortikultura sekaligus cara memanfaatkan pekarangan rumah dan ruang hijau di sekitar tempat tinggal sebagai lahan untuk menanam tanaman pangan.
Mereka juga diperkenalkan pada pemanfaatan bahan organik rumah tangga untuk membuat Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos. Sejumlah bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga, seperti batang pisang, sisa makanan, dan air cucian beras, dapat diolah kembali menjadi pupuk organik.

Bagi Ernie, salah seorang peserta Sekolah Ladang, pengetahuan tersebut menjadi pengalaman baru. Sehari-hari, ia lebih banyak mengelola tanaman perkebunan seperti kelapa dan pala. Sebelumnya, ia belum pernah membuat pupuk sendiri dari bahan organik rumah tangga.
“Ya, kalau kita tidak belajar memang susah. Saya lihat susah itu. Tapi setelah belajar memang gampang-gampang aja. Ini contohnya, batang pisang, sisa makanan, air cucian beras bisa digunakan jadi pupuk lagi,” kata Ernie.
Selain membuat pupuk organik, peserta juga belajar menanam berbagai tanaman pangan, di antaranya kangkung, terong, cabai, tomat, dan labu siam.
Pemanfaatan lahan tidak terbatas pada pekarangan rumah. Ruang hijau di sekitar masjid dan gereja juga diperkenalkan sebagai area yang dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan secara bertahap, baik secara mandiri di rumah maupun melalui kegiatan bersama kelompok.
Bagi Ernie, keterampilan yang diperoleh dari Sekolah Ladang membuka peluang untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga dengan memanfaatkan lingkungan sekitar rumah. Meski hasilnya masih harus menunggu waktu panen, ia melihat manfaat yang dapat dirasakan ketika tanaman mulai menghasilkan.
“Kalau jadi (panen), kita tinggal masak,” jelas Ernie.
Sekolah Ladang merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam menerapkan praktik pertanian yang dapat dilakukan secara mandiri, baik di tingkat rumah tangga maupun kelompok.
Executive Vice President External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap kegiatan ini dapat mendorong masyarakat untuk lebih mandiri dalam mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitar, sekaligus mendukung praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata Latif.
Melalui Sekolah Ladang, peserta tidak hanya belajar mengenai budidaya tanaman, tetapi juga mengenali serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pengetahuan dan keterampilan tersebut diharapkan menjadi bekal awal bagi warga Desa Kawasi untuk secara bertahap memanfaatkan pekarangan dan ruang hijau sebagai sumber pangan keluarga, sekaligus mengembangkan praktik pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan.***