- Harga minyak dunia ditutup menguat pada Rabu (14/10/2026) akibat serangan Houthi dan taktik baru Iran.
- Kelompok Houthi menyerang fasilitas Saudi Aramco di Dhahran dan memicu kekhawatiran pasar pasokan energi global.
- Analis menilai potensi lonjakan harga tertahan oleh rencana pasokan diesel dari Rusia dan pelonggaran sanksi.
Suara.com - Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Rabu (14/10/2026) menyusul serangan kelompok Houthi ke markas Saudi Aramco serta klaim Iran yang mulai menerapkan taktik perang baru di jalur pelayaran vital.
Rangkaian eskalasi geopolitik di Timur Tengah ini kembali memicu kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan energi global.
Mengutip dari Reuters, minyak mentah berjangka jenis Brent ditutup menguat 37 sen atau 0,35 persen ke level 106,06 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah US West Texas Intermediate (WTI) melonjak 95 sen atau 1,01 persen menjadi 95,09 dolar AS per barel, yang merupakan capaian tertinggi dalam tiga pekan terakhir.
Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai ketegangan di Selat Hormuz dan perselisihan Arab Saudi dengan Houthi menjadi pemicu utama lonjakan harga.
"Hari ini kita melihat aktivitas perdagangan yang didominasi oleh ketakutan pasar," ujarnya.
![Laporan gambar dan rekaman asap yang membumbung dari fasilitas-fasilitas di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh setelah serangan rudal balistik [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/20/71973-serangan-houthi-di-arab-saudi.jpg)
Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kelompok Houthi menyerang gedung administratif milik perusahaan minyak negara, Saudi Aramco, di kota Dhahran hingga memicu kebakaran terbatas.
Dalam sepekan terakhir, kelompok tersebut gencar melepaskan rudal balistik dan drone ke wilayah Kerajaan sebagai balasan atas dukungan Arab Saudi terhadap pasukan pemerintah Yaman.
Serangan tersebut bahkan telah empat kali menghantam Bandara Internasional Riyadh, termasuk insiden pada Sabtu lalu yang menewaskan 13 orang.
Di jalur laut, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran melaporkan sebuah kapal kontainer tenggelam di sebelah selatan Selat Hormuz akibat menabrak ranjau laut.
Insiden ini terjadi sehari setelah badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan dua kapal, yakni kontainer dan tanker, dihantam proyektil tidak dikenal di lintasan yang sama.
Pejabat Iran mengonfirmasi telah memulai strategi ofensif baru terhadap kapal-kapal pelayaran sejak sepuluh hari lalu, walau menolak membeberkan rincian teknisnya.
Data menunjukkan alir pasokan minyak dari kawasan Teluk di luar Iran, sebenarnya melonjak pada September hingga mencapai lebih dari 81 persen dari level sebelum konflik, dipicu oleh pemulihan ekspor Arab Saudi.
Sebaliknya, ekspor minyak Iran merosot hingga nol akibat blokade Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), total ekspor minyak mentah produsen Teluk naik 4,4 juta barel per hari atau sekitar 75 persen dari level pra-konflik.
Namun, Analis Saxo Bank Ole Hansen mengingatkan bahwa kenaikan volume ekspor tersebut bukan menandakan adanya lonjakan produksi secara keseluruhan.
"Sebagian pemulihan pasokan ini hanya mencerminkan redistribusi stok minyak yang ada, termasuk pengalihan volume yang semula dialokasikan untuk kilang-kilang lokal," jelas Hansen.
![Presiden AS, Donald Trump. [IG/realdonaldtrump]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/21/79037-presiden-as-donald-trump.jpg)
Di sisi lain, potensi kenaikan harga yang terlalu ekstrem diperkirakan tertahan oleh prospek pasokan diesel dari Rusia.
Presiden AS, Donald Trump pekan lalu mengumumkan bahwa Rusia setuju memasok diesel ke pasar global, diiringi keputusan Washington melonggarkan sanksi minyak terhadap Moskow secara sementara.
Kepala Strategis Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menilai ekspektasi tambahan pasokan diesel dari Rusia ini dapat menahan pergerakan harga minyak agar tidak melonjak terlalu tajam.
Laporan IEA mencatat produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari, meski masih turun 870.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari pasar domestik AS, data American Petroleum Institute (API) mencatat penyusutan tajam pada stok minyak mentah sebesar 11,1 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 9 Oktober.
Laporan resmi mengenai cadangan minyak mingguan AS dijadwalkan bakal dirilis oleh Energy Information Administration (EIA) pada Kamis waktu setempat.