Pemerintah Pangkas Pasokan Gas, Akankah Singapura Balas Stop Ekspor Pertalite ke Indonesia?

Liberty Jemadu, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:50 WIB
Pemerintah Pangkas Pasokan Gas, Akankah Singapura Balas Stop Ekspor Pertalite ke Indonesia?
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemangkasan ekspor gas ke Singapura tak menyalahi kontrak. Tapi ada kekhawatiran Singapura akan membalas dengan mengurangi ekspor BBM, termasuk Pertalite, ke Indonesia. Faktanya, Singapura adalah sumber BBM - termasuk bensin jenis Pertalite - terbesar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. [Suara.com/Ahmad Fauzi]
baca 10 detik
  • SKK Migas dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan pemangkasan volume ekspor gas ke Singapura pada 24 Oktober.
  • Pemerintah Singapura melalui Perdana Menteri Lawrence Wong meminta Indonesia menaati kesepakatan kontrak yang berlaku.
  • Ada kekhawatiran Singapura akan membalas dengan mengurangi ekspor BBM, termasuk Pertalite, ke Indonesia.

Suara.com - Pemerintah pada akhir pekan kemarin mengumumkan memangkas volume ekspor gas ke Singapura dan memantik kehebohan di kawasan Asia Tenggara.

Ada tudingan Indonesia kini tak lagi bisa dipercaya karena mengkhianati kontrak. Tapi di sisi lain ada kekhawatiran, Singapura akan membalas dengan mengurangi atau bahkan menghentikan ekspor produk BBM ke Indonesia.

Faktanya, Singapura adalah sumber BBM - termasuk bensin jenis Pertalite - terbesar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dampak dari kebijakan ini dan apakah Singapura akan membalas?

Mengapa Indonesia pangkas ekspor gas ke Singapura?

Keputusan memangkas ekspor gas ke Singapura awalnya diumumkan SKK Migas pada 24 Oktober kemarin. Alasannya karena penurunan produksi di beberapa sumur gas serta adanya kegiatan pemeliharaan fasilitas.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kemudian menjelaskan pemerintah memprioritaskan alokasi gas untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya bagi sektor kelistrikan PLN dan industri penopang hilirisasi. Ia juga menegaskan pemangkasan ini bersifat dinamis.

Menanggapi keputusan itu Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong langsung dengan tegas meminta Indonesia menaati kesepakatan kontrak.

Tapi Bahlil menjawab bahwa pengurangan ekspor gas ke Singapura, sebesar 31 BBTUD dari aliran Natuna dan Sumatra, tidak melanggar ketentuan kontrak. Menurutnya pemotongan sekitar 8 persen dari total kuota 409,55 BBTUD pada 2026 tersebut masih di bawah batas toleransi maksimal sebesar 10 persen atau 91–92 BBTUD.

baca juga

"Negara kita adalah negara yang menghargai kontrak aturan. Jadi jangan ajarin Indonesia terhadap komitmen untuk menjaga, menghargai kontrak," kata Bahlil saat menggelar konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta pada Senin (26/10/2026).

Ekspor gas tapi impor BBM

Indonesia mulai mengalirkan gas ke Singapura sejak 12 September 2001. Adapun kontrak eskpor tersebut telah beberapa kali mengalami perpanjangan. Seharusnya kontrak berkahir pada 2023, namun kembali diperpanjang hingga 2028. Perpanjangan kontrak tersebut disepakati pada masa jabatan Arifin Tasrif sebagai Menteri ESDM.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor gas Indonesia ke Singapura terus menunjukkan tren penurunan, baik dari segi volume maupun nilai transaksi.

Secara volume, pasokan yang pada 2021 sempat menyentuh angka 5,78 juta ton merosot menjadi 4,67 juta ton pada 2022, lalu turun lagi ke 4,04 juta ton pada 2023. Tren penyusutan ini berlanjut pada 2024 dengan volume 3,74 juta ton, hingga tersisa 3,22 juta ton pada 2025.

Penurunan volume tersebut tecermin pada perolehan nilai ekspornya. Setelah mencatatkan perolehan sebesar 2,22 miliar dolar AS pada 2021 dan melonjak ke 3,02 miliar dolar AS pada 2022, nilai ekspor gas ke Singapura kembali terperosok menjadi 2,26 miliar dolar AS pada 2023, 2,22 miliar dolar AS pada 2024, hingga akhirnya menyusut ke angka 1,66 miliar dolar AS pada 2025.

Tapi di saat yang sama, Indonesia masih tergantung impor BBM dari Singapura, termasuk BBM Subsidi jenis Pertalite. Menurut data BPS, hingga semester I 2026, Singapura masih menjadi sumber migas utama Indonesia dengan komposisi impor mencapai 28,36 persen disusul Malaysia (19,72 persen) dan Amerika Serikat (8,55 persen).

Sementara menurut Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, pada 2025 lalu mayoritas kebutuhan bensin nasional dipenuhi dengan impor dari Singapura dan Malaysia.

Pada 2025 impor bensin dari Singapura mencapai 63 persen, disusul Malaysia (33,14 persen), lalu Oman (1,05 persen) dan keempat ada Uni Emirat Arab (0,72 persen).

Akankah Singapura membalas?

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai kebijakan pemerintah memangkas volume ekspor gas ke Singapura lebih banyak mendatangkan kerugian ketimbang keuntungan.

Ia memperingatkan bahwa pemangkasan ekspor ini berpotensi menjadi bumerang bagi perekonomian nasional melalui risiko hilangnya devisa negara dalam jumlah besar dari pasar Singapura.

Selain itu, kebijakan ini juga memicu risiko pembalasan ekonomi apabila Singapura merespons dengan membatasi ekspor minyak olahan atau Bahan Bakar Minyak (BBM). Jika ini terjadi, Fahmy, memperingatkan, Indonesia dikhawatirkan akan mengalami krisis pasokan yang parah.

"Kalau Singapura membalas dengan menghentikan ekspor BBM, kita akan kesulitan. Antrean di SPBU bukan lagi sepekan, bisa berbulan-bulan karena mengganti pasokan BBM itu tidak mudah," tegas Fahmy.

Meski demikian, Fahmy memandang risiko balas dendam Singapura kecil kemungkinan terjadi dalam waktu dekat. Ia mengatakan Singapura cenderung bersikap rasional selama hubungan dagang masih memberikan keuntungan finansial.

Namun secara kalkulasi bisnis, ia menyimpulkan bahwa kebijakan pemangkasan ekspor tersebut minim keuntungan dan justru berpotensi merugikan perekonomian nasional.

Adapun Bahlil sudah siap dengan langkah antisipasi. Ia pada Senin kemarin mengumumkan akan mengunjungi India dan Tiongkok guna mencari opsi pasokan BBM alternatif bagi kebutuhan dalam negeri.

"Saya sudah memperhitungkan dan mempertimbangkan semuanya. Untuk sektor energi, seluruh dampaknya sudah dikalkulasikan," tegas Bahlil.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pasokan Gas Singapura Berkurang, Begini Dampak Nyatanya Versi Pemerintah Singapura

Pasokan Gas Singapura Berkurang, Begini Dampak Nyatanya Versi Pemerintah Singapura

Bisnis | Senin, 26 Oktober 2026 | 19:51 WIB

Kuota BBM Pertalite Mau Ditambah, APBN Bisa Jebol?

Kuota BBM Pertalite Mau Ditambah, APBN Bisa Jebol?

Bisnis | Senin, 26 Oktober 2026 | 19:25 WIB

Indonesia Pangkas Ekspor Gas, PM Singapura Sentil Bahlil Lahadalia

Indonesia Pangkas Ekspor Gas, PM Singapura Sentil Bahlil Lahadalia

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 17:41 WIB

Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura

Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura

Bisnis | Senin, 26 Oktober 2026 | 17:02 WIB

Menteri ESDM Sebut Pemangkasan Ekspor Gas ke Singapura Sesuai Batas Kontrak

Menteri ESDM Sebut Pemangkasan Ekspor Gas ke Singapura Sesuai Batas Kontrak

Bisnis | Senin, 26 Oktober 2026 | 16:58 WIB

Terkini

5 Wangi Parfum Terbaik untuk Musim Hujan: Hangat, Tenang, dan Tahan Lama

5 Wangi Parfum Terbaik untuk Musim Hujan: Hangat, Tenang, dan Tahan Lama

Lifestyle | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:49 WIB

JPW Desak Ketegasan Polda DIY Tindak Parkir Liar Selama Operasi Patuh Progo 2026

JPW Desak Ketegasan Polda DIY Tindak Parkir Liar Selama Operasi Patuh Progo 2026

Jogja | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:40 WIB

Geger Karhutla Way Kambas Meluas, BPBD Buka Suara Soal Nasib Kandang Gajah

Geger Karhutla Way Kambas Meluas, BPBD Buka Suara Soal Nasib Kandang Gajah

Lampung | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:40 WIB

MSCI Buka Opsi Status Standalone, BEI Hadapi Tantangan Kepercayaan Investor

MSCI Buka Opsi Status Standalone, BEI Hadapi Tantangan Kepercayaan Investor

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:31 WIB

iQOO 16 Hadir dengan Tenaga Buas, Tiga Kamera 50 MP dan Pengisian Daya 100W

iQOO 16 Hadir dengan Tenaga Buas, Tiga Kamera 50 MP dan Pengisian Daya 100W

Your Say | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:30 WIB

Prakiraan Cuaca DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng dan DI Yogyakarta Hari Ini

Prakiraan Cuaca DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng dan DI Yogyakarta Hari Ini

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:25 WIB

KPK Periksa Kepala Bapenda dan ASN Dinas PUPR Kuansing

KPK Periksa Kepala Bapenda dan ASN Dinas PUPR Kuansing

Riau | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:21 WIB

Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda

Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda

Lifestyle | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:21 WIB

Ini Identitas Dua Bule Prancis Pemeran Video Syur Berdurasi 13 Menit yang Hebohkan Bali

Ini Identitas Dua Bule Prancis Pemeran Video Syur Berdurasi 13 Menit yang Hebohkan Bali

Bali | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:17 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100, Bos BI Terus Pantau Pergerakan Pasar

Rupiah Tembus Rp18.100, Bos BI Terus Pantau Pergerakan Pasar

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:15 WIB

×