- Indeks Harga Saham Gabungan melemah pada perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, karena tekanan pasar domestik dan global.
- Pelemahan IHSG dipicu oleh sentimen negatif nilai tukar rupiah, arus keluar modal asing, serta kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
- Secara teknikal, indikator pasar menunjukkan IHSG melanjutkan tren negatif dan berpotensi menguji level support yang lebih rendah.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merah pada awal perdagangan, Jumat, 30 Oktober 2026. IHSG sempat melemah 0,61 persen ke level 5.066.
Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 09.06 WIB, IHSG masih betah di zona merah dengan turun 0,16 persen ke level 5.090.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 7,01 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp1,15 triliun serta frekuensi sebesar 116.960 kali.
Di waktu itu, terdapat 176 saham menghijau, sedangkan, 417 saham merosot. Sisanya, 370 saham masih belum bergerak alias stagnan.
![Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/16/57655-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham-bursa-efek.jpg)
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- POLI
- PTIS
- MYOH
- ALKA
- SULI
Top Loser
- WIDI
- BTEK
- NANO
- LFLO
- PPRO
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini. BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebut, tekanan terhadap pasar saham domestik masih cukup besar seiring pelemahan nilai tukar rupiah, berlanjutnya arus keluar modal asing atau capital outflow, serta ketidakpastian terkait potensi penurunan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.
Dari eksternal, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75–4,00 persen. Namun, keputusan tersebut tidak bulat karena terdapat dua pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan risiko pengetatan kebijakan moneter lanjutan masih terbuka. Terlebih, inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember mendatang.
Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat juga ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya.
Dow Jones Industrial Average turun 0,25 persen ke level 52.342,56. S&P 500 terkoreksi 0,30 persen menjadi 7.720,39, sedangkan Nasdaq Composite melemah lebih dalam sebesar 1,38 persen ke posisi 26.184,72.
Secara teknikal, Brights Sekuritas menilai IHSG kembali melanjutkan tren bearish setelah menembus level support 5.170 dan ditutup di posisi 5.098,06.
Indikator MACD masih berada di zona negatif dan kembali menunjukkan pelemahan momentum. Sementara itu, posisi IHSG juga berada jauh di bawah rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20 di sekitar level 5.646.
IHSG berpotensi menguji level support Fibonacci di 5.026, kemudian berlanjut ke 4.942 apabila tekanan jual berlanjut.
Di tengah kondisi pasar yang masih tertekan, Brights Sekuritas memasukkan saham JARR, SSMS, dan CMRY sebagai pilihan saham atau stock pick untuk dicermati investor.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.