- Hingga pukul 13.52 WIB, saham RANS turun 6,86 persen ke level Rp95 per lembar. Dalam lima hari perdagangan, sahamnya telah melemah 23,39 persen.
- Analis menilai kritik dan seruan boikot di media sosial dapat memicu kepanikan investor ritel. Penolakan atau mundurnya sejumlah mitra juga berpotensi memengaruhi pendapatan non-digital perusahaan.
- Prospek jangka panjang RANS bergantung pada efektivitas manajemen krisis dan kemampuan perusahaan mendiversifikasi sumber pendapatan agar tidak terus bergantung pada figur utama.
Suara.com - Pergerakan saham PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) terus alami kemerosotan. Anjloknya, saham RANS ini tidak terlepas dari sosok pemilik Raffi Ahmad yang tengah jadi sorotan publik.
Berdasarkan data RTI, hingga pukul 13,52 WIB RANS terus alami penurunan 6,86 persen ke level Rp95 per lembar saham. Bahkan, selama lima hari ke belakang, emiten entertaimen ini telah merosot 23,39 persen.
Selain itu, jika dibandingkan dengan posisi saat IPO, saham RANS telah jatuh dari level Rp228 per lembar saham.
Para investor asing juga ramai-ramai melego saham RANS, di mana investor asing net foreign sell mencapai Rp301 juta.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai penurunan ini dipicu oleh kombinasi antara faktor teknis pasar serta tingginya dengan sentimen Raffi Ahmad belakangan ini.
"Sebagai perusahaan media dan ekosistem hiburan yang berbasis pada personal branding Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, pergerakan harga saham RANS sangat sensitif terhadap dinamika persepsi publik," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
Nafan melanjutkan, ketika muncul narasi kritik maupun aksi boikot di media sosial, kepercayaan investor ritel langsung terguncang sehingga memicu aksi jual panik (panic selling) dan penembusan level support psikologis harga sahamnya.
"Sentimen boikot dari publik memberikan dampak langsung terhadap dinamika komersial dan persepsi risiko pasar," bebernya.
Menurut Nafan, penolakan atau mundurnya sejumlah mitra kerja dalam berbagai ajang maupun lini bisnis pendukung RANS berpotensi mempengaruhi potensi pendapatan non-digital perseroan.
"Hal ini direspons negatif oleh pasar saham yang cenderung risk-off, di mana investor mengkhawatirkan terjadinya penurunan daya tarik sponsor serta monetisasi aset media dalam jangka pendek hingga menengah," bebernya.
Selain itu, terkait prospek investasi ke depan, langkah terbaik bagi investor saat ini adalah wait and see atau mengamati terlebih dahulu hingga volatilitas harga mereda.
"Prospek jangka panjang RANS sangat bergantung pada efektivitas manajemen krisis serta sejauh mana perusahaan mampu melakukan diversifikasi pendapatan yang institusional agar tidak terus bergantung pada figur utama," pungkasnya.