- Boikot dan cancel culture, merupakan istilah yang kerap disebut dalam dunia digitaL.
- Padahal keduanya memiliki makna dan sasaran yang berbeda.
- Boikot merupakan penolakan kolektif untuk mengubah kebijakan pihak tertentu.
- Cancel culture merupakan fenomena sosial hilangnya dukungan publik bagi figur akibat pelanggaran norma di media sosial.
Suara.com - Media sosial sering dipenuhi aksi gerakan bersama warganet untuk mengajak dan menarik dukungan seperti boikot dan cancel culture.
Keduanya menggambarkan tindakan penolakan yang melibatkan banyak orang terhadap pihak tertentu karena dianggap melakukan kesalahan atau bertentangan dengan nilai masyarakat.
Meski sama-sama dapat memicu tekanan publik, boikot dan cancel culture memiliki perbedaan makna, sasaran, cara kerja, serta dampaknya.
Untuk lebih jelasnya, berikut perbedaan boikot dan cancel culture.
Apa Itu Boikot?
Secara etimologi dan sosiologis, boikot adalah tindakan kolektif berupa penolakan untuk membeli, menggunakan, atau berinteraksi dengan produk, layanan, merek, atau negara tertentu.

Aksi ini biasanya dilakukan secara kolektif sebagai bentuk protes terhadap kebijakan, tindakan, atau praktik tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan nilai moral, sosial, politik, maupun kemanusiaan.
Tujuan utama boikot yakni memberikan tekanan ekonomi atau sosial agar pihak yang menjadi sasaran bersedia mengubah kebijakan atau memperbaiki perilakunya.
Dalam praktiknya, boikot dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti berhenti membeli produk, membatalkan langganan, menarik investasi, hingga mengajak masyarakat lain untuk tidak memberikan dukungan.
Salah satu contohnya adalah gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) yang mendorong boikot, penarikan investasi, dan sanksi terhadap Israel terkait kebijakan dan perlakuannya terhadap rakyat Palestina.
Jadi, boikot lebih menitikberatkan pada penolakan terhadap aktivitas atau dukungan kepada suatu entitas, bukan semata-mata menjatuhkan reputasi individu.
Apa Itu Cancel Culture?
Berbeda dengan boikot, cancel culture merupakan fenomena sosial ketika seseorang atau suatu pihak kehilangan dukungan publik akibat pernyataan, tindakan, atau perilaku yang dianggap melanggar norma dan nilai masyarakat.
Istilah ini banyak berkembang melalui media sosial karena pengguna internet dapat menyebarkan kritik, mengungkap kontroversi, hingga mengajak orang lain menarik dukungan terhadap figur tertentu.

Sasaran cancel culture umumnya adalah individu yang memiliki pengaruh publik dan terkenal, seperti selebritas, influencer, pejabat, maupun tokoh profesional. Namun, fenomena ini juga dapat menyasar organisasi atau merek.
Dampakn cancel culture bisa berupa kehilangan pengikut, pembatalan kerja sama, pemutusan kontrak, hingga rusaknya reputasi profesional. Dalam kondisi tertentu, seseorang juga dapat mengalami tekanan psikologis akibat kecaman dan pengucilan sosial.
Contohnya, seorang artis atau influencer yang terbukti melakukan perundungan atau menyebarkan ujaran kebencian dapat kehilangan sponsor dan dukungan pengikut setelah perilakunya menjadi sorotan publik.
Bisakah Keduanya Terjadi Bersamaan?
Jawabannya: Ya. Cancel culture sering menggunakan aksi boikot sebagai salah satu alat instrumennya. Misalnya, ketika seorang pemilik merek terkenal tersandung skandal rasisme, publik akan melakukan cancel culture terhadap figur tersebut sekaligus memboikot lini produk busana milik perusahaannya.
Memahami perbedaa boikot dan cancel culture dapat membantu masyarakat agar tidak asal ikut-ikutan isu dan tetap kritis melihat substansi masalah di era kebebasan informasi digital.