Duit Kripto Rp85 Triliun di Binance Kabur!

M Nurhadi

Selasa, 03 November 2026 | 19:34 WIB
Duit Kripto Rp85 Triliun di Binance Kabur!
Ilustrasi Binance [Unsplash/Kanchanara]
baca 10 detik
  • Binance mengalami penarikan dana bersih sebesar US$ 4,7 miliar akibat peretasan yang terjadi di platformnya.
  • Manajemen Binance berhasil memulihkan akses penarikan dana pelanggan pada hari Minggu dengan mengganti seluruh kerugian secara penuh.
  • Total aset kelolaan Binance tetap kokoh di angka US$ 157 miliar meskipun menghadapi gelombang penarikan dana masif.

Suara.com - Binance, dilaporkan mengalami lonjakan arus keluar dana bersih (net outflow) hingga menyentuh angka US$ 4,7 miliar atau setara dengan Rp 85,32 triliun. Gelombang penarikan dana bervolume masif ini terjadi seketika setelah manajemen kembali mengaktifkan layanan penarikan dana (withdrawal) pasca-insiden peretasan bersejarah yang merugikan bursa senilai US$ 6,3 miliar (sekitar Rp 114 triliun).

Meski nominal arus keluar tersebut terlihat sangat fantastis bagi ukuran institusi keuangan konvensional, besaran dana yang keluar sejatinya hanya merepresentasikan porsi yang teramat kecil dari total kekayaan aset yang bersarang di platform tersebut.

Seorang juru bicara perusahaan pada hari Senin mengonfirmasi bahwa akumulasi arus keluar bersih saat ini—yang dikalkulasi dari selisih antara total penarikan dan setoran baru—hanya bertengger di kisaran 3 persen dari keseluruhan aset yang dikelola platform.

Pihak bursa tidak menampik bahwa seluruh metrik lalu lintas dana telah berubah drastis sejak pelanggan mendapatkan kembali akses mereka, namun rasio kerugian bursa dipastikan masih dalam batas yang sangat terkendali. Tren volume penarikan dinilai masih sejalan dengan proyeksi toleransi manajemen, sementara di sisi lain, laju setoran dana segar dari pengguna justru diklaim "terus meningkat".

Respons tanggap dan ketangkasan operasional Binance dalam memitigasi krisis perampokan siber—yang diyakini didalangi oleh peretas Korea Utara—menuai apresiasi positif dari kalangan pialang (trader) maupun penggerak pasar institusional (market maker).

Ketika aset triliunan rupiah lenyap diretas, jajaran eksekutif Binance bergerak cepat berkoordinasi dengan jaringan mitra industri serta institusi pemerintah terkait guna membekukan seluruh aktivitas mencurigakan dan melangsungkan investigasi tertutup. Hasil dari mitigasi cepat tersebut membuat Binance sukses memulihkan akses dana pelanggan pada hari Minggu, jauh melampaui tenggat waktu yang dijanjikan.

Lebih dari itu, perusahaan menempuh langkah perlindungan konsumen maksimal dengan menutup seluruh celah kerugian pelanggan secara utuh. Kompensasi penuh ini ditalangi menggunakan kombinasi pencadangan laba kas internal, alokasi dana darurat, hingga pencairan klaim asuransi. Upaya luar biasa yang dieksekusi Binance ini dipuji sebagai tindakan yang "sungguh luar biasa," sebut Co-founder Areta, Karl-Martin Ahrend.

Pimpinan firma konsultan aset digital tersebut memaklumi dinamika yang sedang terjadi di pasar. Ia menilai bahwa lonjakan arus keluar dana maupun penyesuaian portofolio oleh para pialang adalah reaksi yang "sangat wajar," sekaligus menegaskan bahwa insiden ini tidak akan memicu sentimen kehancuran jangka panjang bagi bursa tersebut.

Optimisme serupa tecermin dari stabilnya pergerakan grafik pasar aset digital secara umum usai badai peretasan menghantam. Harga Bitcoin, yang kerap dijadikan acuan utama kebugaran industri kripto, terpantau tidak banyak mengalami gejolak dan stabil diperdagangkan di sekitar level US$ 77.830 pada awal pekan waktu New York.

baca juga

Bertahannya kepercayaan para pialang ini berakar kuat pada analisis bahwa Binance memiliki ketahanan neraca keuangan (balance sheet) yang teramat tangguh untuk menangkis gempuran serangan siber selevel ini.

Fakta tersebut diperkuat oleh pernyataan juru bicara perusahaan yang merinci bahwa hingga hari Senin, total aset kelolaan Binance masih sangat kokoh di angka US$ 157 miliar. Kalkulasi internal ini bahkan telah memperhitungkan seluruh variabel kerugian, mulai dari dampak peretasan, gelombang penarikan dana susulan, hingga efek dari fluktuasi harga aset.

Selain itu, tingginya angka penarikan yang terekam di sistem tidak semata-mata berasal dari kepanikan nasabah. Co-CEO Binance, Yi He, sebelumnya telah memberikan klarifikasi bahwa bursa juga secara aktif melakukan pemindahan jutaan aset antar-dompet (wallet) internal sebagai bagian dari protokol penebalan arsitektur keamanan.

Dari kacamata analis finansial, angka outflow sebesar US$ 4,7 miliar hanyalah riak kecil jika disandingkan dengan skala perputaran modal Binance. Kepala Pasar FalconX, Joshua Lim, membuat estimasi kasar bahwa pendapatan kotor (gross) tahunan yang diraup Binance berada di kisaran US$ 10 miliar hingga US$ 20 miliar.

Angka ini didapat dari analisis transparansi biaya, rekapitulasi volume perdagangan harian, serta pernyataan finansial jajaran eksekutif.

"Meskipun kerugian ini merusak reputasi industri, kami yakin Binance memiliki kekuatan finansial untuk kembali beroperasi secara normal," kata Lim.

Di sisi lain, ketergantungan ekosistem kripto terhadap bursa raksasa ini membuat para mitra perdagangan institusional tidak memiliki opsi rasional selain menetap dan mengamankan likuiditas mereka di Binance. Presiden sekaligus Co-founder market maker kripto Caladan, Julia Zhou, mencoba meletakkan insiden peretasan perak ini ke dalam konteks historis industri.

Ia membandingkannya dengan tragedi siber tahun lalu, di mana bursa Bybit dibobol hingga merugi sekitar US$ 1,5 miliar oleh sindikat yang juga berafiliasi dengan Korea Utara, persis seperti apa yang dituduhkan Biro Investigasi Federal (FBI) dalam kasus Binance. Insiden Bybit saat itu juga sempat memicu kepanikan massal (rush), namun situasi berangsur pulih dan likuiditas kembali stabil.

"Dari perspektif market maker, kami juga mengamati arus bersih, apakah setoran kembali masuk, bagaimana likuiditas perdagangan dan kedalaman pasar bertahan, serta apakah dana berpindah ke platform lain. Pada akhirnya, ujian yang lebih besar adalah apakah Binance dapat mempertahankan kondisi perdagangan normal," jelas Zhou.

Skandal Binance ini turut menggarisbawahi tren lonjakan kejahatan siber berskala global yang terus meneror industri kripto sepanjang tahun berjalan. Ekskalasi peretasan modern ini ditengarai sangat dipengaruhi oleh kecanggihan rekayasa sistem yang kini didukung oleh eksploitasi alat-alat kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Operasi perampokan digital yang didalangi oleh kelompok peretas spesialis Korea Utara bersandi "TraderTraitor"—pihak yang ditetapkan FBI sebagai dalang di balik serangan Binance—hanyalah sebagian kecil dari ancaman siber yang kini menyelimuti industri keuangan terdesentralisasi.

Rentetan kasus pencurian ini seolah menampar keras keyakinan pasar mengenai standar keamanan absolut, menyadarkan publik bahwa dompet perangkat keras (hardware wallet) yang selama ini diagungkan sebagai wadah penyimpanan aset teraman sekalipun nyatanya memiliki celah retas. Hal ini terbukti ketika platform Bitget harus merelakan ratusan juta dolar AS menguap pada bulan September lalu.

Dalam insiden tersebut, peretas sukses menguras lebih dari US$ 100 juta dalam wujud Bitcoin dari sebuah brankas digital yang diproteksi menggunakan sistem perangkat keras besutan Coinkite Inc. Tragedi serupa yang mengeksploitasi kerentanan perangkat Ledger juga berujung pada hilangnya aset bernilai jutaan dolar AS.

Menyikapi krisis keamanan yang kian mengkhawatirkan ini, Chief Information Officer (CIO) platform analitik Crystal Intelligence, Nick Smart, berpendapat bahwa kondisi psikologis para pemegang kripto ritel saat ini "mungkin merasa sedikit terjebak." Kendati industri tengah diuji oleh berbagai kerentanan sistem, ia tetap memandang objektif terkait posisi superior Binance di pasar global.

"Binance tetap menjadi platform yang dominan meskipun terjadi arus keluar dana. Jadi, meskipun platform tersebut terguncang, kondisinya masih jauh dari kata hancur," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bos CFX Buka-bukaan Soal Peralihan Investor Saham ke Kripto

Bos CFX Buka-bukaan Soal Peralihan Investor Saham ke Kripto

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 15:34 WIB

Pasar Kripto Indonesia Melemah, Indeks CFX10 Turun ke Level 928,62

Pasar Kripto Indonesia Melemah, Indeks CFX10 Turun ke Level 928,62

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 10:01 WIB

Indeks CFX10 Menguat 0,31%, TRON Jadi Kripto dengan Kenaikan Tertinggi

Indeks CFX10 Menguat 0,31%, TRON Jadi Kripto dengan Kenaikan Tertinggi

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 20:12 WIB

Mencekam! Binance Diserbu Penarikan Uang Rp66 Triliun Usai Perampokan Kripto Terbesar

Mencekam! Binance Diserbu Penarikan Uang Rp66 Triliun Usai Perampokan Kripto Terbesar

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 13:15 WIB

Anomali Keamanan INDODAX, Tak Ditemukan Transfer Ilegal dan Kebocoran Data

Anomali Keamanan INDODAX, Tak Ditemukan Transfer Ilegal dan Kebocoran Data

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 10:14 WIB

Bos CFX Ungkap Biang Kerok Penyebab Pasar Kripto RI Loyo

Bos CFX Ungkap Biang Kerok Penyebab Pasar Kripto RI Loyo

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 09:55 WIB

Terkini

Tim Freeport Indonesia Raih Juara Umum IFRC 2026

Tim Freeport Indonesia Raih Juara Umum IFRC 2026

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 19:35 WIB

Menguliti Sisi Gelap Dunia Kerja di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi

Menguliti Sisi Gelap Dunia Kerja di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 19:35 WIB

Penerima Bansos Punya Tabungan Rp100 Juta, Kemensos Dalami Data

Penerima Bansos Punya Tabungan Rp100 Juta, Kemensos Dalami Data

News | Selasa, 03 November 2026 | 19:34 WIB

Duit Kripto Rp85 Triliun di Binance Kabur!

Duit Kripto Rp85 Triliun di Binance Kabur!

Bisnis | Selasa, 03 November 2026 | 19:34 WIB

Promo 11.11 Gadget Day Blibli Histeria, Kenali iPhone 18 Pro Max dengan Fitur Premium!

Promo 11.11 Gadget Day Blibli Histeria, Kenali iPhone 18 Pro Max dengan Fitur Premium!

Sumsel | Selasa, 03 November 2026 | 19:28 WIB

Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan

Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan

Sumsel | Selasa, 03 November 2026 | 19:23 WIB

9 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas

9 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas

Lifestyle | Selasa, 03 November 2026 | 19:21 WIB

Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan

Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan

Your Say | Selasa, 03 November 2026 | 19:20 WIB

Catatan Kelam Malioboro: 8 Luka Berat, Turis Disiksa, Janji Pengobatan Menguap?

Catatan Kelam Malioboro: 8 Luka Berat, Turis Disiksa, Janji Pengobatan Menguap?

News | Selasa, 03 November 2026 | 19:18 WIB

Angkot Sepi Penumpang, Dua Pria di Bogor Sulap Kendaraan Tua Jadi Lapak Kelapa Muda

Angkot Sepi Penumpang, Dua Pria di Bogor Sulap Kendaraan Tua Jadi Lapak Kelapa Muda

Bogor | Selasa, 03 November 2026 | 19:16 WIB

×