- Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari delapan persen pada Rabu akibat kekalahan Partai Republik.
- Kekalahan pemilu sela AS mengalihkan kendali Kongres ke Partai Demokrat dan memperbesar peluang diplomasi damai.
- Penurunan tajam harga minyak tersebut mencatatkan level terendah dalam dua bulan terakhir sejak 31 Agustus.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 8 persen hingga menyentuh level terendah, dalam dua bulan terakhir pada Rabu (4/11).
Penurunan tajam ini dipicu oleh kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela AS, yang membuat kendali Kongres beralih ke Partai Demokrat.
Para investor menilai, perubahan peta politik ini dapat mempercepat berakhirnya konflik militer antara AS-Israel dan Iran.
Mengutip dari Reuters, Kamis (5/11/2026) minyak mentah Brent ditutup turun 8,98 dolar AS (8,7 persen) ke level 94,62 dolar AS per barel, sementara US West Texas Intermediate (WTI) merosot 7,97 dolar AS (8,3 persen) ke posisi 88,12 dolar AS per barel.
Ini merupakan harga penutupan terendah bagi kedua acuan harga minyak tersebut sejak 31 Agustus.
Kekalahan di pemilu sela membatasi ruang gerak militer Presiden Donald Trump di bawah pengawasan Kongres yang kini dikuasai Demokrat.
Menurut sumber dari lingkup pemerintah negara-negara Teluk, kondisi ini mendorong Trump untuk lebih memprioritaskan jalur diplomasi ketimbang eskalasi militer, sehingga potensi serangan berskala besar ke Iran dinilai berkurang.
Namun, pengamat dari kawasan Teluk mengingatkan bahwa kesepakatan yang menguntungkan Iran dapat memicu respons politik yang tidak menentu dari pihak AS.
Sebelumnya, Trump menyatakan kepada Financial Times bahwa AS tidak memiliki rencana mendadak untuk menyerang Iran.
Ia juga mengakui bahwa perang tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekalahan Partai Republik di House of Representatives maupun Senat.
Sementara itu, Wakil Presiden, JD Vance memilih membendung dampak politik dengan mempertanyakan efektivitas perang tersebut dan menyebabkannya sebagai alasan utama kekalahan partai dalam pemilu sela.
Senior VP Trading BOK Financial, Dennis Kissler, menjelaskan bahwa kendali Demokrat atas Kongres berpotensi memangkas anggaran militer AS di Timur Tengah sekaligus memperbesar peluang tercapainya kesepakatan damai.
Faktor ini, ditambah pernyataan Trump dan masih tingginya ekspor minyak dari Timur Tengah, menambah tekanan terhadap harga minyak mentah.
Dari pihak Iran, Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa sikap permusuhan AS terhadap Iran tidak akan berubah siapapun partai yang berkuasa.
Di sisi lain, kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, meski belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Arab Saudi.
Qatar kini meningkatkan peran mediasi untuk mencegah pemburukan situasi pascapemilu AS. Meski demikian, pejabat senior Iran menyebut posisi Iran dan AS masih jauh dari kata sepakat.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/27/40584-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Senior Analyst Enverus, Carl Larry, juga menilai risiko eskalasi konflik dalam jangka pendek masih lebih tinggi dibanding peluang penyelesaian damai.
Berdasarkan data Vortexa, ekspor minyak mentah, kondensat, dan produk olahan dari kawasan Teluk (tidak termasuk LPG) rata-rata mencapai 17,1 juta barel per hari (bpd) pada Oktober.
Angka ini turun dari 18,9 juta bpd pada September, namun masih berada di kisaran 75 persen dari volume sebelum perang.
Untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, Uni Emirat Arab dilaporkan sedang mempertimbangkan pembangunan jalur pipa minyak ketiga.
Dari dalam negeri AS, Badan Informasi Energi (EIA) melaporkan penurunan stok minyak mentah sebesar 865.000 barel menjadi 409,8 juta barel untuk pekan yang berakhir 30 Oktober.
Angka ini berbanding terbalik dengan proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan sebesar 877.000 barel. Stok bensin dan distilat AS juga tercatat mengalami penurunan pada periode yang sama.