- Kemendikdasmen, Assemblr EDU, dan Samsung mengadakan kompetisi Koding Visual ImajiNation 2026 yang diikuti 6.800 peserta.
- Acara puncak dan kompetisi langsung tersebut diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 5 November 2026.
- Kegiatan ini bertujuan melatih logika, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan memecahkan masalah bagi siswa dan guru.
Suara.com - Koding sering kali identik dengan aktivitas menulis baris-baris kode di depan komputer. Padahal, pembelajaran koding tidak hanya bertujuan membuat anak mampu menyusun sebuah program. Di balik proses tersebut, ada keterampilan berpikir yang bisa diasah sejak dini, mulai dari menyusun langkah secara sistematis, mengenali pola, hingga mencari solusi ketika menghadapi masalah.
Saat belajar koding, anak perlu memahami apa yang ingin dibuat, menentukan instruksi yang tepat, lalu menguji apakah hasilnya sesuai dengan tujuan. Jika program tidak berjalan sebagaimana mestinya, mereka perlu mencari letak kesalahan dan mencoba memperbaikinya.
Proses ini memberi kesempatan bagi anak untuk belajar berpikir logis sekaligus melatih ketekunan. Anak juga diajak memahami bahwa sebuah persoalan bisa diselesaikan melalui tahapan-tahapan yang teratur, bukan sekadar menebak jawaban.
Koding juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk menuangkan ide dan kreativitas. Mereka bisa merancang permainan, membuat animasi, atau mengembangkan media pembelajaran interaktif melalui teknologi.
Melatih Logika, Kreativitas, dan Kemampuan Memecahkan Masalah
Salah satu keterampilan yang diasah melalui pembelajaran koding adalah berpikir komputasional. Kemampuan ini berkaitan dengan cara seseorang menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, mengenali pola, menyusun langkah penyelesaian, dan mengevaluasi hasilnya.
Dalam praktiknya, anak belajar memahami hubungan antara instruksi dan hasil. Mereka juga terbiasa melakukan percobaan, menemukan kesalahan, kemudian memperbaikinya.
Selain kemampuan berpikir logis, proses membuat sebuah karya digital dapat mendorong kreativitas anak. Mereka perlu menentukan ide, memilih bentuk penyajian, dan mencari cara agar gagasannya bisa diwujudkan menjadi sesuatu yang dapat digunakan atau dilihat orang lain.
Ketika dikerjakan bersama teman, pembelajaran koding juga membuka kesempatan untuk melatih komunikasi dan kolaborasi. Anak belajar menyampaikan ide, mendengarkan pendapat orang lain, serta menyatukan gagasan untuk menghasilkan sebuah karya.
Karena itu, pembelajaran koding tidak semestinya hanya berorientasi pada kemampuan teknis. Cara berpikir, proses mencoba, dan kemampuan menyelesaikan masalah juga menjadi bagian penting dari pengalaman belajar tersebut.
Koding Visual, Cara Kreatif Mengenalkan Pemrograman kepada Anak
Pembelajaran koding dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih interaktif, salah satunya melalui Koding Visual. Dengan pendekatan ini, anak dapat menyusun instruksi dan membuat karya digital melalui elemen visual, sehingga proses belajar tidak selalu harus dimulai dengan mengetik kode yang rumit.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu bagian dari kompetisi kreasi digital ImajiNation 2026 yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Assemblr EDU dan didukung Samsung for Education.
Kompetisi yang diikuti 6.800 murid dan guru dari 38 provinsi ini bertujuan mengembangkan kreativitas dan logika berpikir peserta melalui Koding Visual.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial perlu diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir yang sistematis, kreatif, kolaboratif, serta berorientasi pada penyelesaian masalah.