- Gen Z menghadapi tekanan ekonomi, terutama di dunia kerja, yang semakin berat, tapi perlu melihatnya sebagai persiapan.
- Gen Z perlu beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja agar tetap relevan.
- World Economic Forum memprediksi kemunculan 78 juta pekerjaan baru global hingga 2030 melalui penetrasi internet dan teknologi.
Suara.com - Head of Agency Recruitment and Productivity Manulife Indonesia, Zaneti Sugiharti, mengajak generasi muda Gen Z memandang tekanan ekonomi dan perubahan dunia kerja saat ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai persiapan.
Pesan itu disampaikannya dalam sesi Youth Economic Talkshow pada forum Youth Economic Summit atau YES 2026 yang bertema “Drive the Direction”, Sabtu (7/11/2026). Ajang ini dihelat Suara.com dan CORE Indonesia.
“Buat saya ini bukan ancaman, tapi persiapan. Kalau kita enggak coba shifting, kalau kita enggak coba lakukan hal yang berbeda, kita akan tertinggal,” kata Zaneti.
Zaneti menyoroti tiga kata kunci utama: resilience, flexibility, dan agility. Ia menyebut tiga tuntutan itu lebih dari sekadar kecerdasan.
“Ini sikap mental, emosional juga dibutuhkan di sini. Enggak cuma pintar, tapi kita bisa enggak beradaptasi,” ia mewanti-wanti.
Pekerja perlu mampu belajar dan bertumbuh ketika tuntutan pekerjaan berubah. Kemampuan-kemampuan itu, menurut Zaneti, dibutuhkan industri setidaknya hingga 2030.
Zaneti lalu mengaitkan kebutuhan beradaptasi itu dengan kondisi keuangan pekerja. Ia menyebut upah riil pekerja di Indonesia stagnan, bahkan cenderung turun pada 2018–2024 karena tingginya biaya kebutuhan.
Kalaupun upah naik, menurutnya, keinginan seperti menonton konser ikut bertambah sehingga penghasilan terasa kian menipis.
Zaneti juga menyinggung frasa populer ‘in this economy’. Menurutnya, ungkapan itu menanamkan perasaan di alam bawah sadar bahwa segalanya serba sulit, mulai dari jalan-jalan ke luar negeri, menyekolahkan adik, hingga melanjutkan S2 ke luar negeri.
“Jangan, teman-teman,” ia mengingatkan.
Justru dalam kondisi seperti sekarang, kata dia, saatnya untuk berubah.
“Kita tetap harus mampu melihat potensi diri kita dan apa yang bisa kita kembangkan. Dan jangan sampai kita berhenti untuk bermimpi dan meraih mimpi-mimpi kita,” seru Zaneti.
Tekanan berat Gen Z
Sebelumnya di acara yang sama Strategic Research Manager CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan 50 persen Gen Z kini menunda mengambil keputusan besar dalam hidup karena kondisi upah dan penghasilan yang stagnan sejak 2018 lalu.
"Satu dari dua Gen Z dan milenial saat ini terpaksa menunda keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka, seperti menikah atau membeli rumah," kata Rendy.
Rendy mengungkapkan saat ini anak muda, termasuk Gen Z adalah yang paling tertekan di pasar tenaga kerja nasional.
Ia menunjukkan tingkat pengangguran terbuka nasional di kelompok usia 15 - 24 tahun kini mencapai 17,37 persen, atau sekitar 3,2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan angka pengangguran umum.
Tapi tantangan bagi pekerja muda tidak berhenti pada sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai. Bagi mereka yang telah terserap di pasar kerja, stagnasi upah menjadi masalah krusial berikutnya.
Meskipun secara nominal terjadi kenaikan upah, upah riil pekerja saat ini tidak bergerak jauh dibandingkan kondisi pada tahun 2018. Kenaikan upah dinilai gagal mengimbangi lonjakan biaya hidup dan gaya hidup (seperti hiburan/konser).
Kondisi finansial yang terhimpit ini memaksa pekerja muda mencari penghasilan tambahan (side hustle). Data mencatat bahwa 53 persen pelaku side hustle saat ini berasal dari kelompok kelas menengah.
"Pekerja 9 to 5 pada akhirnya harus mengambil pekerjaan tambahan karena masalah upah," tambah Rendy.
Lebih lanjut Rendy menguraikan sekitar 35 persen angkatan kerja muda saat ini tidak bekerja sesuai dengan tingkat pendidikannya. Hal ini memicu fenomena overeducated (lulusan pendidikan tinggi bekerja di sektor yang tidak membutuhkan keahlian tinggi) dan undereducated (pekerjaan yang menuntut keahlian tinggi namun diisi oleh SDM yang belum mencapai standar tersebut).
Meski dihadapkan pada realita yang menantang, Rendy menegaskan bahwa peluang di masa depan tetap terbuka lebar. Mengutip laporan World Economic Forum (WEF), akan ada sekitar 78 juta pekerjaan baru yang tercipta secara global hingga tahun 2030.
Penetrasi internet dan adopsi teknologi yang cepat di Indonesia membuka jalan bagi gig economy dan sektor ekonomi digital untuk terus berkembang. Sektor-sektor ini tidak hanya menjadi katup pengaman melalui penyediaan side job, tetapi juga berpotensi menjadi modal awal bagi anak muda untuk beradaptasi dengan kebutuhan keahlian di masa depan.
"Meskipun situasinya tampak gloomy, peluang dari ekonomi digital tetap ada dan harus kita kejar bersama dengan membenahi mismatch yang terjadi saat ini," tutup Yusuf.
Reporter: Esther Nadya