Lambat laun, bisnis lendir ini mulai mendapat persetujuan dari sejumlah Negara di Eropa. Pada pertengahan abad ke-17 misalnya, sejumlah Negara termasuk Kerajaan Belanda menerapkan aturan cukup ketat untuk keberlangsungan bisnis prostitusi. Bahkan aturan ini juga diterapkan Kerajaan Belanda di tanah jajahan mereka, termasuk di Indonesia.
Buku 'Rode Lamp Van Batavia tot Jakarta' yang ditulis oleh Ridwan Saidi memaparkan bahwa munculnya bisnis lendiri di ibukota tak lepas dari berkembangnya budaya keroncong.
Kala itu, Jassenburg (kini bernama Jembatan Batu, tak jauh dari Stasiun Jakarta Kota), para pemuda bersantai pada malam hari sambil memetik gitar dan para perempuan tampil genit di atas loteng rumah mereka.
Budaya ini ternyata tradisi yang diturunkan oleh peranakan Portugis India di Indonesia, khususnya di Jakarta. Seiring berjalannya waktu, kawasan Jassenburg yang awalnya banyak dihuni oleh peranakan Portugis India beralih kepada orang Tionghoa.
Gadis-gadis peranakan Portugis India pun sudah berganti dengan para wanita dari Makau. Sebutan mereka moler (Portugis) yang artinya perempuan, yang kemudian mengalami perubahan makna menjadi perempuan jalang.
Panggilan jalang itu dilekatkan kepada para wania ini disebabkan mereka yang banyak menjadi pemuas hawa nafsu para pembesar Tionghoa dan Belanda.
Daerah Jassenburg pun kemudian dikenal orang sebagai tempat prostitusi pertama khusus kelas menengah bawah di Jakarta. Banyak orang kemudian mengenal daerah ini sebagai gang Mangga. Kaum Adam yang doyan mampir ke gang ini kemudian dipanggil Pehong alias si sial.
Disebut si sial karena mereka menjadi penyebar penyakit kelamin yang kemudian marak terjadi setelah munculnya bisnis lendir ini di Jakarta.
Kemunculan gang Mangga kemudian diikuti dengan munculnya sejumlah tempat yang menjadi bisnis lendir. Bagi orang-orang Eropa, termasuk orang Belanda di Indoensia pada era itu mereka memiliki kebiasaan memberi nama indah untuk daerah yang menjadi tempat bisnis lendir.
Seperti tempat prostitusi di Sawah Besar diberi nama dengan Caligot, mengambil nama sandiwara keliling dari Eropa yang kerap manggung di Jakarta tempo dulu.
Daerah Petojo juga memiliki gang tempat mangkalnya para PSK. Orang Belanda menyebut daerah itu dengan sebutan Gang Hauber.
Setelah Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, daearah ini kemudian berganti nama menjadi gang Sadar. Ialah Walikota Jakarta Raden Soediro yang mengganti nama gang Hauber menjadi gang Sadar.
Bisnis lendir di kawasan Batavia saat itu mendapat lampu hijau dari Gubernur Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen. Setelah meruntukan Jayakarta, Coen membangun Batavia dengan konsep seperti kampug halamanya di Belanda, termasuk munculnya kawasan untuk tempat prostitusi.
Coen saat itu menganggap bahwa para tentara VOC membutuhkan jasa pemuas hawa nafsu karean jauh dari istri dan keluarga.
Praktek munculnya bisnis prostitusi di Jakarta kemudian juga menjadi andalan Belanda untuk para prajurit KNIL. Para prajurit KNIL utamanya yang hanya berpangkat rendah tiap malam terjebak ke dunia pelacuran demi bisa memuaskan hawa nafsu.