Pemain muda berbakat ini telah menjadi bintang turnamen dengan mencetak dua gol dan memberikan empat assist.
Kemampuan dribbling, visi bermain, dan kemampuan mencetak golnya menjadi ancaman serius bagi pertahanan lawan.
Taktik Prancis: Fleksibilitas dan Kreativitas
Di bawah asuhan Thierry Henry, Prancis menampilkan gaya permainan yang fleksibel. Mereka dapat bermain dengan formasi 4-3-3 diamond atau 4-3-1-2, tergantung pada situasi pertandingan.
Fokus utama mereka adalah membangun serangan dari bawah, dengan para bek sayap yang aktif membantu serangan.
Olise berperan penting dalam skema serangan Prancis. Ia dapat beroperasi sebagai nomor 10, tetapi seringkali turun ke sayap kanan untuk memberikan umpan-umpan berbahaya.
Kolaborasinya dengan striker Alexandre Lacazette dan Jean Mateta menjadi senjata mematikan bagi Les Bleus.
Kekuatan dan Kelemahan Prancis
- Kekuatan
Prancis tak bisa dipungkiri memiliki kekuatan di lini serang. Mereka Mencetak 11 gol dalam 5 pertandingan merupakan pencapaian luar biasa, menyamai rekor Spanyol sebagai pencetak gol terbanyak, yang akan mereka hadapi di pertandingan final.
Prancis memiliki bakat menyerang yang kuat dalam diri Alexandre Lacazette, Jean Mateta, Michael Olise, Rayan Cherki, dan Arnaud Kalimuendo.
Formasi Prancis mengakomodasi bakat penyerang Lacazette dan Mateta, dengan Olise diposisikan tepat di belakang mereka.
Thierry Henry memilih formasi ini untuk memanfaatkan kekuatan penyerang Prancis yang besar, memastikan kedua penyerang didukung sambil memberi Olise ruang untuk menciptakan dan menghubungkan permainan.
- Kelemahan
Tim Prancis ini tidak memiliki kelemahan yang berarti, menciptakan 10,85 xG (expected goal) dan hanya kebobolan 3,3 xG.
Mereka hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, yang terjadi di semifinal melawan Mesir.
Namun, yang dapat menjadi kelemahan Prancis adalah tekanan untuk tampil.