- Striker Haiti, Duckens Nazon, terjebak konflik bersenjata di Iran saat bermain untuk klub Esteghlal baru-baru ini.
- Nazon berhasil keluar dari zona konflik setelah terdampar selama 48 jam di perbatasan Iran menuju Azerbaijan.
- Pemain berusia 32 tahun ini kini fokus berlatih individu demi menghadapi putaran final Piala Dunia 2026.
Suara.com - Striker timnas Haiti, Duckens Nazon, menjalani periode emosional dalam hidupnya setelah membantu negaranya lolos ke Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya sejak 1974.
Namun di balik euforia itu, Nazon juga harus menghadapi situasi mencekam saat terjebak konflik di Iran, tempat ia bermain untuk klub Esteghlal.
Penyerang berusia 32 tahun itu mengaku sempat menyaksikan langsung serangan bom dari jarak sangat dekat.
“Saya melihat bom jatuh dari sekitar 100 meter. Itu pengalaman yang gila,” ujarnya seperti dilansir dari BBC.
Nazon awalnya berencana meninggalkan Iran saat konflik pecah, namun penerbangannya dibatalkan mendadak.
Nazon kemudian terdampar hingga 48 jam di perbatasan Iran-Azerbaijan sebelum akhirnya berhasil keluar dari zona konflik.
“Saya ditolak di perbatasan dan harus tidur di sana. Tapi saya beruntung membeli eSIM sebelum perang, karena internet di Iran diputus,” katanya.
Di tengah situasi genting, keluarga Nazon, istri dan empat anaknya dalam kondisi aman di Prancis.
Nazon mengaku situasi akan jauh lebih sulit jika mereka ikut terjebak dalam evakuasi tersebut.
“Kalau bersama keluarga dalam kondisi itu, pasti jauh lebih sulit mengambil keputusan,” ucapnya.
Kini, dengan kompetisi domestik di Iran dihentikan sementara, Nazon fokus menjalani latihan individu untuk mempersiapkan diri menghadapi Piala Dunia 2026.
Haiti dipastikan tampil di Piala Dunia untuk kedua kalinya sepanjang sejarah.
Sebagai top skor sepanjang masa timnas dengan 44 gol, Nazon berambisi membawa negaranya menciptakan kejutan di turnamen tersebut.
Haiti tergabung dalam grup berat bersama Skotlandia, Maroko, dan Brasil. Laga pembuka melawan Skotlandia akan menjadi momen bersejarah bagi Nazon dan timnya.
“Kami adalah duta negara kami. Ini bukan tekanan, tapi misi yang kami jalani dengan cinta dan semangat,” tegasnya.