2. GBK

Atmosfer Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dipastikan akan memanas ketika Timnas Indonesia berhadapan dengan Jepang.
Ribuan pasang mata akan tertuju pada lapangan, memberikan dukungan tanpa henti bagi skuad Garuda.
Gelombang merah, warna khas suporter Indonesia, akan memenuhi setiap sudut stadion, menciptakan atmosfer yang intimidatif bagi lawan.
Pelatih tim Samurai Biru, Hajime Moriyasu, mengakui bahwa dukungan penuh dari suporter Indonesia akan menjadi tantangan tersendiri bagi timnya.
Ingatan akan pertandingan Piala Asia U-19 2018 masih terukir jelas di benaknya, di mana ribuan penonton memenuhi SUGBK dan menciptakan suasana yang sangat meriah.
Moriyasu bahkan menyebut bahwa dukungan penonton Indonesia saat itu sangat sulit untuk dilupakan.
Pada pertandingan Piala Asia U-19 2018 lalu, Jepang berhasil meraih kemenangan tipis atas Indonesia dengan skor 2-0.
Namun, kemenangan tersebut tidak diraih dengan mudah. Indonesia mampu memberikan perlawanan yang sengit dan baru kebobolan pada babak kedua.
Mengingat pengalaman pahit di masa lalu, Moriyasu dipastikan akan menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi tekanan dari suporter Indonesia.
Ia berharap timnya dapat bermain tenang dan fokus meskipun harus menghadapi ribuan pasang mata yang terus meneriakkan dukungan untuk tuan rumah.
3. Cuaca
![Joel Chima Fujita, pemain keturunan Nigeria milik Timnas Jepang. [Dok. Instagram/@joel_fujita0216]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/11/10/11560-joel-chima-fujita-pemain-keturunan-nigeria-milik-timnas-jepang.jpg)
Cuaca ekstrem di Indonesia, terutama saat musim penghujan, bisa menjadi keunggulan tersendiri bagi Timnas Indonesia saat berlaga di kandang.
Perubahan cuaca yang drastis, dari terik matahari menjadi hujan deras dalam waktu singkat, sudah menjadi hal yang biasa bagi para pemain sepak bola Tanah Air.
Kondisi cuaca yang tak menentu ini dapat menjadi tantangan tersendiri bagi tim tamu seperti Jepang dan Arab Saudi yang lebih terbiasi dengan iklim yang lebih stabil.