Suara.com - Stadion Segiri, Samarinda, menjadi saksi laga pembuka BRI Super League 2025/2026 yang mempertemukan Borneo FC Samarinda melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC, Jumat (8/8/2025) sore WIB.
Dalam duel sarat gengsi ini, Pesut Etam berhasil mengamankan tiga poin perdana dengan kemenangan tipis 1-0, berkat gol semata wayang Mariano Peralta.
Namun, di balik kemenangan itu, laga ini menyisakan cerita menarik, mulai dari performa tim hingga keluhan tentang kondisi lapangan.

Mariano Peralta Pencetak Gol Pertama
Borneo FC memulai musim dengan kemenangan krusial berkat gol tunggal Mariano Peralta pada menit ke-66.
Penyerang asal Argentina ini memanfaatkan umpan terobosan dari Kei Hirose untuk menaklukkan kiper Bhayangkara, Awan Setho.
Gol ini tidak hanya menjadi penentu kemenangan, tetapi juga menandai debut apik Peralta bersama Pesut Etam setelah didatangkan musim ini.
Meski Bhayangkara melancarkan serangan bertubi-tubi di babak pertama, pertahanan Borneo yang dikawal Nadeo Argawinata tetap kokoh, memastikan clean sheet pertama musim ini.
Kondisi Lapangan Buruk Jadi Sorotan
Laga ini diwarnai keluhan tentang kondisi lapangan Stadion Segiri yang buruk.
Permukaan lapangan yang tidak rata dan rumput yang kurang terawat menyulitkan kedua tim untuk mengembangkan permainan.
Kualitas siaran televisi juga menjadi perbincangan karena sering kali buram, mengurangi pengalaman menonton para penggemar yang menyaksikan melalui Vidio.com.
Komentar di media sosial menyerukan evaluasi mendesak dari PT Liga Indonesia Baru (I-League) untuk memastikan standar fasilitas kompetisi, terutama di laga pembuka yang seharusnya menjadi wajah liga.
Bhayangkara Gagal Manfaatkan Dominasi Awal
Meski kalah, Bhayangkara FC menunjukkan semangat juang sebagai tim promosi.
The Guardians menguasai permainan di 20 menit awal dengan serangan cepat dari Stjepan Plazonja dan Shanyder Borgelin.
Namun, ketidakmampuan menjebol gawang Nadeo Argawinata menjadi kelemahan utama.
Pelatih Paul Munster, yang pernah membawa Bhayangkara finis di posisi ketiga pada musim terbaiknya, mengakui timnya kehilangan ketajaman di sepertiga akhir lapangan.
Pergantian pemain seperti Sani Rizki di babak kedua belum mampu mengubah keadaan, membuat Bhayangkara pulang dengan tangan hampa.

Perombakan Skuad Borneo FC Tunjukkan Hasil
Borneo FC tampil dengan wajah baru setelah merombak skuad secara besar-besaran.
Dengan rata-rata usia pemain 25,1 tahun, tim asuhan Fabio Lefundes diperkuat pemain seperti Juan Felipe Villa dari Kolombia dan Maicon de Souza dari Brasil.
Era Baru BRI Super League dan Aturan Baru
Laga ini menandai dimulainya era baru BRI Super League, yang kini menggantikan nama Liga 1, dengan PT Liga Indonesia Baru (I-League) sebagai operator.
Musim 2025/2026 menghadirkan perubahan seperti penggunaan bola dan perlengkapan wasit dari Adidas, menggantikan Specs.
Namun, larangan suporter tandang masih berlaku karena FIFA belum menyetujui usulan I-League untuk mengembalikan kehadiran suporter tamu pasca-Tragedi Kanjuruhan.
