- John Herdman resmi ditunjuk sebagai pelatih Timnas Indonesia pada Sabtu (3/1/2026), menggantikan Patrick Kluivert.
- Media Belanda mengungkap masa kecil Herdman di Consett diwarnai kekerasan brutal hingga nyaris merenggut nyawanya saat berusia enam belas tahun.
- Pengalaman sulit masa kecil membentuk mental juang, empati kuat, dan pendekatan psikologis dalam gaya kepelatihan John Herdman.
Suara.com - Sosok John Herdman yang kini dipercaya menukangi Timnas Indonesia ternyata menyimpan perjalanan hidup penuh perjuangan.
Media Belanda membongkar sisi kelam masa kecil pelatih anyar Garuda itu, yang disebut pernah menjadi korban kekerasan brutal hingga nyaris kehilangan nyawa.
John Herdman resmi ditunjuk sebagai pelatih Timnas Indonesia untuk menggantikan Patrick Kluivert.
Pengumuman tersebut dilakukan pada Sabtu (3/1/2026), setelah posisi pelatih kepala sempat kosong sejak pertengahan Oktober 2025.
Penunjukan Herdman langsung menyita perhatian luas, tidak hanya di Tanah Air, tetapi juga di kancah internasional. Salah satu media Eropa yang menyorot figur Herdman adalah Voetbal Nieuws asal Belanda.
Media tersebut mengulas latar belakang kehidupan pribadi John Herdman yang jarang diketahui publik.
Disebutkan, perjalanan hidup mantan pelatih Timnas Kanada itu diwarnai masa kecil yang penuh tekanan, konflik keluarga, hingga kekerasan fisik.
Herdman dilaporkan tumbuh di Consett, wilayah Inggris Utara, dalam lingkungan keluarga yang jauh dari kata ideal.
Kedua orang tuanya disebut memiliki persoalan serius yang turut membentuk karakter keras sang pelatih sejak usia dini.
Baca Juga: Komentar Tidak Biasa Pelatih Asal Malaysia Soal John Herdman Jadi Pelatih Timnas Indonesia
"Dia (John Herdman) tumbuh dengan ayah yang mengidap gangguan bipolar dan ibu yang memiliki masalah kecanduan alkohol," tulis laporan Voetbal Nieuws, dipetik Selasa (6/1/2026).
Kondisi tersebut membuat Herdman remaja harus hidup mandiri lebih cepat dari usianya.
Bahkan, media Belanda itu menyebut satu insiden kekerasan yang hampir merenggut nyawa Herdman saat masih bersekolah.
"Pada usia enam belas tahun, ia tinggal di perumahan sosial. Suatu hari di sekolah, ia dipukuli dengan sangat parah sehingga nyawanya sempat terancam," tambah media tersebut.
Dalam laporan yang sama, Voetbal Nieuws juga mengungkap bahwa olahraga menjadi jalan keluar Herdman dari kerasnya kehidupan.
Tinju dan sepak bola menjadi sarana pelampiasan emosi, sekaligus membentuk mental juaranya.