- Kerusuhan melanda Meksiko sejak Minggu (22/2) dipicu kabar tewasnya bos kartel CJNG, El Mencho, dalam operasi di Jalisco.
- CJNG diduga terlibat dalam pencucian uang melalui bisnis seperti restoran dan memiliki relasi informal dengan klub Liga Meksiko.
- Anggota kartel diduga terlibat kerusuhan stadion 2022 serta afiliasi dengan operator kartel yang mengontrak eks pemain Liga Meksiko.
Suara.com - Situsi sejumlah kota di Meksiko sejak Minggu (22/2) pagi waktu setempat dilaporkan mengalami kerusuhan. Hal ini dipicu atas tewasnya bos kartel CJNG, Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho.
Dikutip dari laporan sejumlah media lokal melaporkan bahwa sosok yang dikenal sebagai pemimpin Cartel Jalisco Nueva Generación (CJNG), El Mencho meninggal dunia dalam operasi di Talpa de Allende, Jalisco.
Operasi aparat berlangsung pada Minggu pagi waktu setempat di wilayah yang disebut sebagai salah satu basis operasi kelompok tersebut.
Pasca operasi, muncul laporan blokade jalan, pembakaran kendaraan, dan gangguan aktivitas publik di beberapa negara bagian seperti Jalisco, Michoacán, Guanajuato, Colima, Aguascalientes, hingga Tamaulipas.
Menariknya, Cartel Jalisco Nueva Generación alias CJNG diduga memiliki relasi dengan dua klub sepak bola di Liga Meksiko, Club Deportivo Guadalajara (Chivas) dan Atlas F.C.
Kok bisa kelompok kartel narkotika diduga ada relasi dengan klub sepak bola?
Dilansir dari Seasonsofcrime.com, CJNG dikenal memiliki jaringan bisnis luas sebagai sarana pencucian uang, mulai dari restoran hingga pusat perbelanjaan.
Salah satu kasus yang mencuat adalah restoran Kenzo Sushi di Guadalajara, yang pada 2017 masuk daftar sanksi otoritas Amerika Serikat karena diduga menjadi bagian dari jaringan pencucian uang.
Eks kiper Chivas, Jaret Boryeti Hernández Quezada, sempat dikaitkan sebagai salah satu pemilik perusahaan pengelola baru restoran tersebut.
Meski begitu, hingga kini tidak ada tuntutan hukum yang dijatuhkan kepadanya di Meksiko.
Selain itu, kelompk kartel ini bahkan diduga turut campur dalam susunan pemain dua klub tersebut saat akan bertanding.
Kasus itu terjadi di internal Chivas pada akhir 2023. Saat itu, dua pemain utama diskors karena melanggar aturan klub, muncul laporan media lokal bahwa pelatih saat itu, Veljko Paunovic, menerima ancaman terkait keputusan susunan pemain.
Meski tidak ada konfirmasi resmi yang mengaitkan langsung ancaman tersebut dengan CJNG, sejumlah sumber menyebut adanya relasi informal antara oknum pemain dan pihak luar yang memiliki koneksi ke kelompok kriminal.
Paunovic kemudian meninggalkan Chivas pada Desember 2023.
Tak berhenti disitu, mundur setahun ke belakang, sejumlah anggota kartel ini diduga masuk ke dalam kelompok ultras Atlas dan membuat kerusuhan di stadion.