-
Maarten Paes menjadi Man of the Match meski dikritik keras oleh legenda Ajax Amsterdam.
-
Kenneth Perez menyebut operan Maarten Paes lemah dan membahayakan pertahanan tim saat melawan Zwolle.
-
Adaptasi gaya main kiper modern menjadi tantangan utama Paes bersama Ajax dan Timnas Indonesia.
Suara.com - Kiper andalan Timnas Indonesia Maarten Paes baru saja menuntaskan laga penuh drama bersama Ajax Amsterdam.
Pertandingan sengit melawan PEC Zwolle di MAC PARK Stadion tersebut berakhir dengan skor imbang 0-0.
Menariknya Paes tampil nyentrik dengan mengenakan topi pelindung akibat cuaca panas yang menyengat lapangan hijau.
Penampilan tersebut membuat publik teringat karakter ikonik Genzo Wakabayashi dalam serial animasi sepak bola populer.
Meski berhasil mencatatkan nirbobol pertamanya ia justru mendapatkan sorotan tajam dari figur senior klub.
Mantan pemain pilar Ajax era awal 2000-an Kenneth Perez tidak sepenuhnya terkesan dengan aksi Paes.
Perez menyoroti blunder pada menit ke-65 yang hampir saja membuat gawang Ajax kebobolan secara konyol.
Kala itu sapuan bola dari kaki Paes justru membentur pemain lawan dan menciptakan kemelut berbahaya.
Eks pemain asal Denmark tersebut menilai akurasi umpan sang kiper sangat membahayakan stabilitas pertahanan tim.
"Mereka punya pembuat masalah terbesar di gawang. Paes, dia memainkan umpan paling gila dan sangat lemah," ucap Perez.
Perez menekankan bahwa setiap pemain Ajax wajib memiliki kemampuan teknik dasar yang sempurna dalam mengalirkan bola.
Kesalahan distribusi dianggap sebagai dosa besar bagi tim yang mengandalkan penguasaan bola seperti De Godenzonen.
Pandit senior ESPN Belanda Marciano Vink juga turut memberikan analisis mendalam terkait kekurangan sang penjaga gawang.
Vink berpendapat bahwa Paes sedang mengalami fase adaptasi yang cukup sulit di kasta tertinggi Belanda.
Menurut analisis Vink kiper berusia 27 tahun tersebut sebelumnya tidak terbiasa terlibat dalam skema pembangunan serangan.