-
Persija Jakarta bermain imbang 2-2 melawan Borneo FC di Jakarta International Stadium kemarin.
-
Gol telat Ikhsan Nul Zikrak di masa injury time menggagalkan kemenangan Macan Kemayoran.
-
Mauricio Souza kecewa karena pemain Persija kehilangan fokus setelah sempat memimpin dua kali.
Suara.com - Stadion Jakarta International Stadium menjadi saksi drama sepak bola yang menyesakkan bagi pendukung tuan rumah semalam. Macan Kemayoran terpaksa berbagi poin setelah laga sengit melawan Borneo FC Samarinda berakhir tanpa pemenang.
Pertandingan pekan ke-24 BRI Super League 2025/2026 ini menyajikan tensi tinggi sejak peluit pertama dibunyikan.
Harapan pendukung Persija untuk melihat timnya mengamankan poin penuh sempat melambung tinggi sepanjang durasi laga.
Sayangnya keunggulan yang sudah dijaga dengan susah payah harus sirna akibat kelengahan di detik-detik terakhir.
Persija Jakarta sebenarnya mengambil inisiatif serangan lebih dulu untuk menekan pertahanan tim tamu asal Kalimantan.
Skuad asuhan Mauricio Souza menciptakan rentetan peluang berbahaya melalui lini serang mereka yang tampil sangat agresif.
Nama-nama seperti Maxwell Souza dan Alaaeddine Ajaraie berulang kali mendapatkan kesempatan emas di depan gawang.
Namun penyelesaian akhir yang kurang tenang membuat skor kacamata tetap bertahan hingga waktu istirahat tiba.
Borneo FC pun terlihat kesulitan keluar dari tekanan hebat yang diberikan oleh barisan gelandang Macan Kemayoran.
Baca Juga: 5 Klub Termahal di BRI Super League 2025/26, Persib Bandung Paling Mewah
Kebuntuan pecah sesaat setelah wasit memulai kembali pertandingan untuk memulai jalannya babak kedua di JIS.
Penyerang andalan Gustavo Almeida langsung mencatatkan namanya di papan skor saat laga memasuki menit ke-47.
Kegembiraan publik Jakarta hanya bertahan sementara karena tim tamu memberikan respons cepat yang sangat mematikan.
Juan Villa berhasil merobek jala gawang tuan rumah pada menit ke-62 sehingga skor kembali menjadi imbang.
Skema serangan balik Borneo FC terbukti ampuh merusak konsentrasi lini belakang Persija yang mulai tidak stabil.
Tuan rumah tidak menyerah begitu saja dan kembali meningkatkan intensitas serangan untuk mencari gol kedua mereka.
Fabio Calonego akhirnya membawa Persija kembali memimpin melalui sebuah sepakan keras yang sangat terukur pada menit ke-75.
Tendangan tersebut menghujam deras ke pojok gawang dan membuat kiper Borneo FC tidak berdaya menghalaunya.
Kemenangan seolah sudah berada di depan mata bagi Persija karena waktu pertandingan normal hampir habis.
Atmosfer stadion semakin bergemuruh merayakan keunggulan tipis yang dipertahankan oleh para pemain Macan Kemayoran tersebut.
Akan tetapi sepak bola selalu menghadirkan kejutan pahit bagi tim yang kehilangan fokus di masa kritis.
Ikhsan Nul Zikrak yang datang dari bangku cadangan menjadi mimpi buruk bagi seluruh pendukung setia Persija.
Pada menit ke-94 ia berhasil memanfaatkan situasi kemelut di area terlarang untuk menyamakan skor menjadi 2-2.
Gol telat tersebut membuat para pemain Persija tampak lesu karena kemenangan yang sudah dekat tiba-tiba hilang.
Wasit meniup peluit panjang tak lama kemudian dan memastikan kedua tim harus puas membawa pulang satu poin.
Hasil imbang ini memicu kekecewaan mendalam dari sang arsitek lapangan hijau Persija yaitu Mauricio Souza.
Ia menyoroti ketidakmampuan anak asuhnya dalam mengonversi peluang matang menjadi gol sejak menit awal pertandingan.
"Pada babak pertama, kami punya kesempatan untuk mencetak gol. Kita harus cetak gol di level ini. Kita tidak boleh miss beberapa kali," ujar Souza.
Sosok pelatih asal Brasil tersebut juga merasa heran dengan performa pemainnya yang menurun setelah unggul.
Ia menilai mentalitas pemenang seharusnya ditunjukkan dengan kontrol pertandingan yang lebih solid hingga laga berakhir.
Pelatih berusia 51 tahun tersebut mempertanyakan mengapa timnya seolah kehilangan arah saat sudah memimpin skor.
"Di babak kedua, lebih seimbang. Kami bisa cetak gol saat babak kedua dimulai. Jangan tanya saya kenapa setelah cetak gol kami jadi tidak fokus," ucap Souza.
Menurutnya koordinasi antarlini menjadi sangat berantakan terutama saat tim harus bertahan menghadapi serangan balik lawan.
"Jadi setelah mencetak gol, kami kurang turun. Jadi tidak dapat kontrol pertandingan. Jadi tim yang mau juara, di babak kedua harus lebih baik lagi."
Kegagalan menjaga kedalaman skuad di saat kritis menjadi catatan merah bagi perjalanan Persija di liga.
Kehilangan poin penuh di kandang sendiri tentu merugikan posisi Persija dalam persaingan ketat di papan atas.
Kesalahan kolektif di area pertahanan menjadi perhatian khusus tim pelatih untuk segera dilakukan perbaikan menyeluruh ke depannya.
"Jadi ada momen untuk lebih bertahan. Kami kebobolan dari lini tengah dan di kotak penalti yang tidak terjaga," pungkas arsitek asal Brasil tersebut.
Kini Persija harus segera bangkit dan melupakan hasil mengecewakan ini demi mengejar ketertinggalan poin mereka.
Persaingan menuju gelar juara musim 2025/2026 dipastikan akan semakin berat jika masalah konsentrasi ini belum teratasi.