-
Iran menuntut jaminan FIFA agar militer IRGC tidak dihina selama Piala Dunia berlangsung.
-
Keikutsertaan Timnas Iran bergantung pada perlakuan otoritas Amerika Serikat terhadap delegasi resmi mereka.
-
Ketua Federasi Iran menegaskan bahwa status tuan rumah adalah FIFA, bukan pemerintah Amerika Serikat.
Negara tersebut menekankan bahwa tanggung jawab menjaga atmosfer turnamen berada sepenuhnya di tangan FIFA sebagai penyelenggara utama kegiatan.
“Ini adalah sesuatu yang harus mereka perhatikan dengan serius. Jika ada jaminan seperti itu dan tanggung jawab diasumsikan secara jelas, maka insiden seperti yang terjadi di Kanada tidak akan terulang lagi,” ungkapnya.
Di balik ancaman boikot ini, persiapan fisik dan teknis skuad Team Melli dilaporkan tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.
Timnas Iran akan segera bertolak menuju Turkiye untuk menjalani pemusatan latihan terakhir sebelum direncanakan terbang ke Amerika Serikat.
Meski situasi politik memanas, Mehdi Taj menggarisbawahi bahwa hak mereka bertanding di Piala Dunia didapat melalui pencapaian kualifikasi yang sah.
“Kami pergi ke Piala Dunia karena kami lolos kualifikasi. Tuan rumah kami adalah FIFA, bukan Tuan Trump atau Amerika,” tegas pimpinan sepak bola Iran tersebut.
Sesuai jadwal, Iran akan memulai laga perdana melawan Selandia Baru di Los Angeles pada tanggal 15 Juni mendatang.
Selanjutnya mereka akan menantang Belgia pada 21 Juni dan mengakhiri fase grup dengan melawan Mesir di Seattle.
Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat sendiri berada dalam titik terendah pasca meletusnya konflik militer terbuka sejak Februari 2024.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Iran, ribuan warga sipil menjadi korban dalam serangan yang melibatkan kekuatan Amerika Serikat dan sekutunya.
Konflik ini berakar pada ketegangan geopolitik jangka panjang yang memuncak pada serangan militer langsung di awal tahun 2024.
Kanada telah menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris, yang memicu penolakan masuk bagi pejabat Iran seperti Mehdi Taj di perbatasan.
Situasi ini diperumit dengan operasi militer yang menelan korban jiwa mencapai 3.468 orang di pihak Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan ke basis militer Amerika di Timur Tengah.