-
Taktik bertahan ekstrem Arsenal mencatat rekor penguasaan bola terendah (26%) sepanjang sejarah final Liga Champions.
-
Strategi mengulur waktu selama 31 menit gagal meredam PSG dan justru merusak reputasi The Gunners.
-
Mikel Arteta dituntut merombak gaya bermain dan lebih berani menyerang agar bisa bersaing di level tertinggi.
Suara.com - Pendekatan defensif ekstrem menjadi bumerang terbesar bagi Arsenal saat dipaksa menyerah oleh Paris Saint-Germain dalam partai puncak UEFA Champions League.
Kekalahan dramatis lewat adu penalti ini sekaligus menelanjangi keterbatasan taktik pragmatis Mikel Arteta ketika dihadapkan pada panggung tertinggi Eropa.
Diulas ESPN, meskipun sukses mengakhiri puasa gelar Premier League selama 22 tahun dengan pertahanan kokoh, Arsenal terbukti tidak berkutik saat intensitas kompetisi menuntut kreativitas lebih.
![Arsenal 1 Tendangan 24 Persen Penguasaan Bola, Sir Alex Ferguson: Tim yang Membosankan [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/01/14583-arsenal.jpg)
The Gunners mencatatkan rekor buruk dengan hanya menguasai 26 persen aliran bola sepanjang pertandingan di Budapest.
Angka tersebut menjadi statistik penguasaan bola terendah bagi seorang finalis Liga Champions sejak pencatatan data dimulai pada 2004.
Gol cepat Kai Havertz pada menit keenam justru membuat Arsenal langsung menurunkan garis pertahanan secara ekstrem untuk menjaga keunggulan.
Alih-alih mencari gol pembunuh laga, armada London Utara memilih bermain pasif dan membiarkan PSG mendominasi sisa jalannya pertandingan.
![Arsenal menghadapi tantangan besar saat berjumpa Paris Saint-Germain di final Liga Champions. Duel antara Les Parisiens dan The Gunners berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, pada Sabtu (30/5/2026) malam WIB. [Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/30/17383-arsenal.jpg)
Klub asal Inggris ini bahkan menerapkan strategi mengulur waktu yang sangat mencolok demi meredam agresivitas lawan.
Lebih dari 31 menit waktu pertandingan terbuang sia-sia akibat aksi teatrikal, keterlambatan lemparan ke dalam, hingga penundaan sepak mula.
- Declan Rice: Ini Seperti Lotre
Baca Juga
Sikap provokatif ini memicu kemarahan pelatih PSG, Luis Enrique, yang berulang kali memprotes keras ofisial pertandingan di pinggir lapangan.
Ironisnya, taktik negatif ini justru memberikan angin segar bagi sang juara bertahan Prancis untuk terus mengurung lini pertahanan Arsenal.
Kegagalan ini mempertegas tren negatif Meriam London yang kerap mati kutu saat menghadapi tim-tim raksasa di kompetisi domestik maupun Eropa.
Mikel Arteta kini dituntut berani mengubah filosofi bermainnya jika ingin membawa Arsenal sejajar dengan mentalitas juara milik Liverpool atau Manchester City.
Usai laga, juru taktik asal Spanyol tersebut mengisyaratkan perlunya perombakan besar-besaran di dalam skuadnya.
"Kami [akan] mulai mengambil beberapa keputusan yang sangat penting jika kami ingin mencapai level lain," kata Arteta.
Ia menambahkan, "Dan kita harus menunjukkan ambisi itu karena kita lebih dari mampu untuk melakukannya. Namun, itu akan menuntut kita untuk menjadi sangat, sangat ambisius, sangat cepat, dan sangat cerdas."
Arsenal sejatinya mengakhiri musim Liga Champions tahun ini dengan catatan unik tanpa satu pun kekalahan dalam waktu normal.
Kendati demikian, pragmatisme berlebihan membuat Arteta enggan memaksimalkan deretan penyerang mahal seperti Viktor Gyökeres, Eberechi Eze, dan Noni Madueke sejak menit awal.
Sejarah mencatat bahwa keberanian menyerang adalah kunci utama untuk merengkuh trofi si Kuping Besar, sebuah aspek yang saat ini belum dimiliki oleh skuad Arsenal.
Jika Arteta tidak segera membuang ego defensifnya, trofi tertinggi antarklub Eropa ini akan selamanya berada di luar jangkauan mereka.