- Thomas Tuchel menegaskan Timnas Inggris bukan favorit utama juara Piala Dunia 2026 karena belum meraih gelar dunia selama 60 tahun.
- Meski demikian, Tuchel memastikan The Three Lions tetap datang dengan target besar untuk memperebutkan trofi juara.
- Pelatih asal Jerman itu meminta pemain fokus pada proses dan langkah demi langkah untuk mencapai puncak prestasi di turnamen.
Suara.com - Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, secara mengejutkan menolak label favorit juara yang disematkan kepada anak asuhnya menjelang Piala Dunia 2026.
Juru taktik asal Jerman tersebut menegaskan bahwa skuad The Three Lions saat ini lebih tepat dipandang sebagai tim penantang daripada unggulan utama.
Meski menolak status favorit, Tuchel menjamin bahwa Harry Kane dan kolega tetap memelihara mimpi besar untuk membawa pulang trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.
Tuchel: Inggris Bukan Favorit Utama
![Harry Kane yakin cuaca panas Amerika Utara tak akan menghambat Inggris di Piala Dunia 2026. Sang kapten datang dengan modal 67 gol sepanjang musim. [Dok. IG England]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/08/29749-harry-kane-timnas-inggris.jpg)
Turnamen akbar tersebut segera bergulir dengan ambisi besar Inggris untuk menyudahi puasa gelar dunia yang sudah berlangsung selama 60 tahun.
Sejumlah negara seperti Spanyol, Prancis, Brasil, Portugal, hingga juara bertahan Argentina dinilai lebih layak menyandang status unggulan.
"Ada berapa banyak tim favorit? Tidak, kami bukan favorit utama," ujar Thomas Tuchel dalam konferensi pers dikutip dari ESPN, Rabu (10/6/2026).
Menurut Tuchel, kegagalan Inggris meraih gelar juara dunia selama beberapa dekade terakhir menjadi alasan utama mengapa mereka tidak layak disebut favorit.
"Kami tidak bisa disebut begitu karena kami sudah bertahun-tahun tidak memenanginya," lanjut mantan pelatih Chelsea tersebut.
Ia menilai status unggulan lebih pantas diberikan kepada negara-negara yang memiliki rekam jejak kesuksesan di turnamen besar.
"Ada pemenang yang sudah terbukti di turnamen ini dengan kesuksesan yang lebih banyak, merekalah favoritnya," tegas Tuchel.
Inggris Tetap Bermimpi Angkat Trofi
Meski enggan menyandang status favorit, Tuchel memastikan Inggris datang ke Piala Dunia 2026 dengan ambisi besar.
"Kami berkompetisi untuk memperebutkan trofi, kami bermimpi besar," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa mimpi tersebut harus dibarengi tanggung jawab, kerja keras, komitmen, dan disiplin tinggi.
Tuchel ingin para pemain fokus pada setiap pertandingan tanpa terbebani ekspektasi berlebihan.
"Kami melihat diri kami sebagai kompetitor, sebagai penantang, kami ingin melangkah sejauh mungkin," tambahnya.
Baginya, mentalitas sebagai penantang justru dapat membantu tim tampil lebih lepas sepanjang turnamen.
Warisan Southgate dan Filosofi Mendaki Gunung
Tuchel juga memberikan apresiasi terhadap fondasi yang dibangun pendahulunya, Gareth Southgate.
Di bawah kepemimpinan Southgate, Inggris berhasil mencapai final Euro 2020 dan Euro 2024, serta semifinal Piala Dunia 2018.
"[Hasil-hasil itu] sangat relevan," ujar Tuchel.
Menurutnya, pencapaian tersebut membuktikan bahwa Inggris sudah berada di level elite dan memiliki kapasitas untuk menjadi juara.
"Jika Anda mencapai final di Euro, semifinal, perempat final di Piala Dunia, maka Anda sudah ada di sana dan bisa memenanginya," jelasnya.
Namun, ia tetap menilai sejarah panjang tanpa gelar membuat Inggris belum layak disebut favorit mutlak.
"Mungkin ini perbandingan yang salah, jika Anda pergi ke Wimbledon dan belum pernah memenanginya, atau 60 tahun lalu memenanginya, Anda mungkin bukan favorit," tuturnya.
Untuk menggambarkan pendekatannya, Tuchel menggunakan filosofi pendakian gunung.
"Jika kita ingin mencapai puncak gunung, kita harus memulai perjalanan selangkah demi selangkah dan pergi dari base camp ke base camp," paparnya.
Ia ingin para pemain tetap fokus pada proses dan tidak terjebak dalam euforia maupun tekanan di luar lapangan.
"Saya memiliki keyakinan, kami semua memiliki keyakinan dan mimpi, tetapi itu datang dengan tanggung jawab, kerja keras, komitmen, dan disiplin," tegasnya.
"Ini semua termasuk di dalamnya, tetapi kami berani bermimpi dan itu adalah hal yang penting," pungkas Tuchel.
Fokus pada Sepak Bola, Jauh dari Isu Politik
Di luar urusan teknis, Tuchel juga menanggapi isu penolakan visa wasit asal Somalia, Omar Artan, oleh pihak imigrasi Amerika Serikat.
Ia mengaku bersyukur karena Federasi Sepak Bola Inggris (FA) memberinya ruang untuk tetap fokus pada sepak bola.
"Ya, dan saya sangat berterima kasih kepada asosiasi karena mereka membiarkan saya memisahkan hal itu dan menjadi pelatih kepala," ucapnya.
Menurut Tuchel, fokus penuh terhadap sepak bola menjadi kunci jika Inggris ingin melangkah jauh di turnamen.
"Turnamen ini sudah cukup sulit jika kita hanya fokus pada sepak bola," tutup pelatih berusia 52 tahun tersebut.