- Timnas Jerman menghadapi Piala Dunia 2026 dengan skuad minim pengalaman Liga Champions dibandingkan era kejayaan tahun 2014.
- Komposisi pemain kini didominasi atlet dari klub menengah serta pemain muda yang diharapkan menjadi motor kebangkitan tim.
- Jerman menghadapi tantangan besar karena penurunan kualitas kompetitif dan lini pertahanan yang dinilai kurang kuat dari sebelumnya.
Suara.com - Timnas Jerman datang ke Piala Dunia 2026 tanpa status unggulan seperti edisi-edisi sebelumnya.
Skuad asuhan Julian Nagelsmann dinilai kurang bertabur bintang, dengan sepertiga pemainnya bahkan tidak tampil di Liga Champions musim terakhir.
Komposisi tim menunjukkan perubahan signifikan dari era kejayaan 2014.
Saat itu, Jerman tampil dominan hingga meraih gelar juara dunia, namun setelahnya mereka justru mengalami dua kegagalan beruntun di fase grup pada 2018 dan 2022.
Dalam daftar pemain terbaru, Bayern Munich masih menjadi penyumbang terbanyak, disusul Stuttgart yang secara mengejutkan menjadi salah satu kontributor utama.
Sejumlah pemain juga berasal dari klub-klub menengah seperti Mainz, Hoffenheim, dan Eintracht Frankfurt.
Minimnya pemain dari klub elite Eropa menjadi sorotan tersendiri.
Hanya beberapa nama seperti Antonio Rudiger, Florian Wirtz, dan Kai Havertz yang berasal dari klub besar, namun performa mereka musim ini dinilai belum konsisten.
Data menunjukkan tren penurunan pengalaman pemain di level tertinggi.
Jika pada 2014 sekitar 87 persen skuad bermain di Liga Champions, kini angkanya hanya sekitar 65 persen, menunjukkan perubahan kualitas dan pengalaman kompetitif.
Meski begitu, secara nilai pasar Jerman tetap masuk lima besar skuad termahal di turnamen ini.
Namun, posisi mereka dalam peta kekuatan masih berada di bawah tim-tim seperti Prancis, Inggris, dan Spanyol.
Harapan kini bertumpu pada pemain muda seperti Wirtz dan Jamal Musiala.
Keduanya diharapkan mampu menjadi motor kebangkitan Jerman, meski kekhawatiran masih muncul terutama di lini pertahanan yang tak lagi sekuat dulu.
Legenda sepak bola Jerman pun berbeda pendapat soal peluang tim ini.
Lothar Matthaus optimistis dengan potensi juara, sementara Thomas Muller memilih realistis.
“Kami bukan tim underdog, kami bisa mengalahkan tim besar. Tapi secara kolektif dan individu, kami belum berada di level tertinggi,” ujar Muller dilansir dari ESPN.
Dengan kombinasi pemain muda dan pengalaman yang terbatas, Jerman menghadapi tantangan besar untuk kembali ke jalur juara.
Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian penting apakah Die Mannschaft mampu bangkit dari keterpurukan.