- Penyelenggara Piala Dunia 2026 di New Jersey melarang penggunaan bahasa Spanyol dalam konferensi pers tim Brasil dan Maroko.
- Pembatasan bahasa tersebut diduga terjadi karena absennya sistem penerjemah simultan yang memadai bagi para jurnalis yang hadir.
- Kebijakan ini menuai kritik luas karena dianggap tidak mencerminkan keragaman bahasa yang seharusnya ada dalam turnamen internasional.
Suara.com - Piala Dunia 2026 kembali diwarnai kontroversi, kali ini terkait aturan konferensi pers jelang laga Brasil vs Maroko di New Jersey.
Sejumlah jurnalis tidak diizinkan mengajukan pertanyaan dalam bahasa Spanyol, memicu perdebatan luas di kalangan media dan penggemar.
Insiden mencolok terjadi saat sesi konferensi Timnas Brasil.
Seorang wartawan asal Spanyol diminta menggunakan bahasa Inggris sebelum mengajukan pertanyaan kepada Vinícius Júnior.
Menariknya, Vinícius justru meminta sang jurnalis berbicara dalam bahasa Spanyol, yang ia pahami dengan baik.
Namun, moderator tetap bersikeras mempertahankan aturan penggunaan bahasa Inggris.
Situasi serupa terjadi dalam konferensi pers Timnas Maroko.

Seorang reporter mencoba bertanya kepada Achraf Hakimi dalam bahasa Spanyol, tetapi langsung dihentikan oleh moderator.
Hakimi kemudian turun tangan dan menyatakan dirinya memahami bahasa tersebut.
“Tidak masalah bagi saya,” isyaratnya, yang akhirnya membuat jurnalis diperbolehkan melanjutkan pertanyaan.
Dalam jawabannya, Hakimi tetap menggunakan bahasa Inggris dan menyampaikan pesan hangat kepada penggemar.
“Ini adalah kebanggaan memiliki dukungan dari negara Anda. Saya mencintai negara Anda dan senang melihat dukungan dari seluruh dunia,” ujarnya dilansir dari PubliMetro.
Menurut sejumlah laporan, pembatasan bahasa ini diduga terkait ketiadaan sistem penerjemah simultan untuk bahasa Spanyol dalam konferensi resmi.
Hal ini dianggap janggal mengingat Spanyol merupakan salah satu bahasa paling banyak digunakan di negara tuan rumah.
Kebijakan tersebut langsung menuai kritik di media sosial. Banyak pihak mempertanyakan keputusan penyelenggara yang dinilai tidak mencerminkan keragaman bahasa dalam Piala Dunia.