- FIFA resmi membebaskan wasit VAR Shaun Evans dari tuduhan gerakan tangan kontroversial saat laga Jerman melawan Curacao.
- Hasil investigasi FIFA menyatakan gerakan tersebut merupakan kedutan bawah sadar, bukan simbol kebencian atau supremasi kulit putih.
- Sebagai tindak lanjut, FIFA mengubah protokol siaran langsung dengan tidak lagi menampilkan wasit VAR menatap ke arah kamera.
Suara.com - Wasit VAR asal Australia, Shaun Evans, akhirnya bisa bernapas lega setelah FIFA secara resmi membebaskannya dari segala tuduhan terkait gestur tangan kontroversial.
Penyelidikan mendalam dilakukan menyusul munculnya simbol "OK" terbalik yang sempat dikaitkan dengan gerakan supremasi kulit putih pada laga Jerman melawan Curacao di Piala Dunia 2026.
Keputusan ini memastikan Shaun Evans tetap akan bertugas dalam sisa turnamen akbar tersebut setelah terbukti tidak melanggar kode disiplin federasi sepak bola dunia.
Alasan Kedutan Bawah Sadar
![FIFA berencana melakukan investigasi usai kemenangan besar Jerman atas Curacao dalam laga Piala Dunia 2026, Senin (15/6/2026) pagi WIB. Melansir laman Givemesport, seorang wasit Piala Dunia dituduh membuat isyarat "white power" atau kekuatan kulit putih. [Givemesport]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/15/73341-wasit-jerman-vs-curacao.jpg)
Dalam pembelaannya, pria berusia 38 tahun tersebut menyebut bahwa gerakan tangan tersebut hanyalah sebuah kedutan bawah sadar yang tidak disengaja.
Ia mengaku sama sekali tidak menyadari telah melakukan gerakan tangan yang menyerupai simbol "OK" terbalik saat kamera siaran langsung menyorot pusat wasit di Dallas.
"Gerakan itu adalah kedutan bawah sadar yang tidak disengaja," tegas Shaun Evans dikutip dari BBC.
Ia secara tegas membantah adanya niat untuk menyampaikan pesan, afiliasi, atau kepercayaan tertentu melalui gerakan tersebut.
Bagi Shaun Evans, tuduhan yang beredar di media sosial sangat menyudutkan integritas pribadinya sebagai wasit profesional.
"Liputan setelah insiden ini sama sekali tidak mencerminkan siapa saya," ujar Shaun Evans.
Hasil Investigasi Resmi FIFA
FIFA selaku badan pengatur sepak bola dunia menyatakan tidak menemukan bukti kuat yang bisa menjerat wasit kawakan Liga Australia (A-League) tersebut.
Melalui pernyataan singkatnya, badan pimpinan Gianni Infantino itu mengonfirmasi bahwa tidak ada pelanggaran Kode Disiplin FIFA yang dilakukan oleh sang wasit.
Investigasi tersebut turut melibatkan rekaman video di dalam ruang VAR yang membuktikan bahwa Evans memang sering melakukan gerakan tangan serupa secara tidak sadar.
"Gambar yang diambil kemudian selama pertandingan menunjukkan bahwa saya mengulangi gerakan ini berkali-kali sambil memegang pena di antara jari-jari saya," jelas Shaun Evans.
Ia pun menyatakan rasa penyesalannya atas interpretasi publik yang mengaitkan gerakan tersebut dengan simbol kebencian atau rasisme.
"Tentu saja saya mengerti bagaimana gestur tersebut telah ditafsirkan dan saya menyesali hal ini, namun saya ingin sangat jelas dan secara tegas mengatakan bahwa saya tidak secara sadar atau sengaja membuat simbol tangan yang dituduhkan," tutur Shaun Evans.
FIFA Ubah Protokol Siaran VAR
Meskipun Shaun Evans dinyatakan tidak bersalah, FIFA tampaknya langsung melakukan evaluasi cepat terhadap cara penayangan ruang VAR di televisi.
Pada laga-laga setelah kemenangan telak Jerman 7-1 atas Curacao tersebut, protokol siaran langsung menunjukkan perubahan yang sangat mencolok.
Para petugas VAR kini tidak lagi berpose menatap kamera saat nama mereka ditampilkan di layar kaca sebelum pertandingan dimulai.
Sebaliknya, kamera hanya menyorot para wasit yang sudah fokus bekerja di depan monitor masing-masing demi menghindari potensi kontroversi serupa.
Shaun Evans sendiri mengaku bangga bisa bertugas di ajang sebesar Piala Dunia dan siap memberikan dukungan penuh bagi rekan-rekan wasit lainnya.
"Menjadi wasit di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya dan saya menantikan untuk mendukung rekan-rekan saya di sisa turnamen," pungkas Shaun Evans.
Latar Belakang Simbol OK Terbalik
Simbol tangan "OK" terbalik memiliki dua makna yang sangat bertolak belakang, yakni sebagai lelucon circle game yang populer di internet atau sebagai kode supremasi kulit putih.
Sejak 2017, kelompok sayap kanan mulai menggunakan tanda ini sebagai taktik provokasi hingga akhirnya dimasukkan ke dalam daftar simbol kebencian oleh Anti-Defamation League (ADL) pada 2019.
Organisasi anti-diskriminasi seperti Kick It Out dan jaringan Fare sempat meminta klarifikasi FIFA sebelum keputusan resmi ini dikeluarkan.
Shaun Evans sendiri bukan nama baru di dunia perwasitan internasional karena ia telah masuk daftar wasit FIFA sejak 2017 dan pernah bertugas di Piala Dunia 2022 Qatar.