- Gelandang Iran, Mohammad Mohebi, mencetak gol dalam laga imbang 2-2 melawan Selandia Baru di SoFi Stadium, Amerika Serikat.
- Mohebi memicu kontroversi publik karena melakukan selebrasi gestur menembakkan pistol saat pertandingan Piala Dunia 2026 berlangsung.
- Aksi selebrasi tersebut menuai kecaman luas dari warganet yang mendesak FIFA agar memberikan sanksi tegas kepada pemain.
Suara.com - Mohammad Mohebi mendadak menjadi pusat perhatian usai laga Iran kontra Selandia Baru pada pertandingan perdana Grup G Piala Dunia 2026.
Bukan semata karena gol yang dicetaknya, melainkan selebrasi kontroversial yang dilakukan setelah berhasil membobol gawang lawan.
Gelandang Iran tersebut mencetak gol kedua timnya saat menghadapi Selandia Baru di SoFi Stadium, Los Angeles, Amerika Serikat, Senin waktu setempat.
Gol itu membantu Iran mengamankan hasil imbang 2-2 setelah sempat tertinggal dalam pertandingan.
![Gelandang Iran, Mohammad Mohebi, menjadi sorotan usai selebrasi golnya memicu kontroversi di Piala Dunia 2026. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/16/58094-mohammad-mohebi.jpg)
Mohebi mencetak gol melalui sundulan yang sukses menaklukkan kiper lawan.
Namun, sesaat setelah bola masuk ke gawang, pemain berusia 27 tahun itu melakukan selebrasi dengan gestur menyerupai memegang dan menembakkan pistol.
Aksi tersebut langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak pengguna internet menyoroti selebrasi itu karena dianggap tidak pantas dilakukan dalam ajang sepak bola terbesar di dunia.
Tak sedikit pula yang mendesak FIFA untuk mengambil tindakan terhadap pemain Iran tersebut.
FIFA Didesak Ambil Sikap
Dilansir dari NDTV, beberapa akun media sosial disebut meminta badan sepak bola dunia itu memberikan sanksi atau larangan bermain kepada Mohebi selama sisa turnamen.
Kontroversi yang melibatkan Mohebi menambah panas atmosfer laga Iran melawan Selandia Baru yang sejak awal sudah diwarnai berbagai isu di luar lapangan.
Meski FIFA dan aparat keamanan setempat telah menerapkan sejumlah pembatasan selama pertandingan berlangsung, tensi politik tetap terasa di sekitar stadion.
Menjelang kick-off, ratusan demonstran dilaporkan berkumpul di luar venue untuk menyampaikan protes terhadap pemerintah Iran.
Di dalam stadion, sejumlah suporter Iran juga terlihat membawa simbol-simbol yang dilarang FIFA, termasuk bendera Iran era pra-revolusi.
Simbol tersebut tampak menghiasi tribun dalam bentuk bendera, spanduk, hingga gambar pada pakaian yang dikenakan para pendukung.
Pengamanan di SoFi Stadium berlangsung ketat. Seluruh penonton harus melewati pemeriksaan keamanan sebelum memasuki stadion, termasuk pengecekan barang bawaan dan metal detector.
Beberapa suporter yang mengenakan pakaian bergambar bendera Iran pra-revolusi sempat diminta petugas keamanan untuk menutupi simbol tersebut.
Namun, setelah berada di dalam stadion, simbol-simbol itu tetap terlihat di berbagai area tribun.
Ketegangan juga tampak saat lagu kebangsaan Iran diperdengarkan. Sebagian suporter memilih membelakangi lapangan, sementara lainnya melontarkan siulan sebagai bentuk protes.
Di tengah situasi tersebut, selebrasi Mohebi menjadi sorotan baru yang memicu perdebatan luas. Hingga kini, FIFA belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait aksi pemain Iran tersebut.
Sementara itu, hasil imbang 2-2 membuat Iran dan Selandia Baru sama-sama mengoleksi satu poin pada laga pembuka Grup G.
Namun, di luar hasil pertandingan, kontroversi selebrasi Mohammad Mohebi justru menjadi topik yang paling banyak dibicarakan setelah peluit akhir dibunyikan.