- Pelatih Carlo Ancelotti meminta publik tetap tenang setelah Brasil bermain imbang 1-1 melawan Maroko pada laga pembuka.
- Ancelotti menekankan perlunya proses pengembangan tim agar Brasil mampu tampil lebih maksimal pada pertandingan melawan Haiti mendatang.
- Bek Danilo mengakui performa tim saat ini masih belum mencapai level elite dibandingkan negara seperti Prancis dan Argentina.
Suara.com - Pelatih Carlo Ancelotti, meminta publik Brasil tetap tenang jelang laga kontra Haiti pada matchday kedua fase grup Piala Dunia 2026.
Ancelotti menegaskan tidak ada alasan untuk panik meski timnya tampil kurang meyakinkan di laga pembuka.
Brasil sebelumnya hanya bermain imbang 1-1 melawan Maroko, hasil yang memicu kritik terhadap performa tim.
Namun, Ancelotti menilai reaksi tersebut berlebihan dan meminta semua pihak melihat situasi secara lebih objektif.
“Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya menjadi pelatih timnas Brasil. Saya harus menghadapi tekanan, tetapi saya punya pengalaman untuk itu,” ujar Ancelotti seperti dikutip dari L’Equipe.
Pelatih asal Italia itu mengakui hasil laga perdana belum sesuai ekspektasi.
![Sosok Carlo Ancelotti di pinggir lapangan selalu identik dengan satu kebiasaan unik, mengunyah permen karet sepanjang pertandingan. [@resenhaescrita]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/14/56401-carlo-ancelotti.jpg)
Meski demikian, Ancelotti menekankan bahwa Piala Dunia adalah turnamen panjang dan satu pertandingan tidak menentukan segalanya.
Menurut Ancelotti, timnya masih dalam proses berkembang dan membutuhkan waktu untuk menemukan performa terbaik.
Ancelotti optimistis Brasil akan menunjukkan peningkatan saat menghadapi Haiti.
Timnas Brasil dinilai perlu melakukan perubahan signifikan jelang laga melawan Haiti.
Kepercayaan pelatih Carlo Ancelotti terhadap sejumlah pemain disebut tak boleh membatasi permainan tim di lapangan.
Pernyataan bek senior Danilo menjadi pengingat keras bagi publik bahwa Brasil belum berada di level elite seperti Prancis dan Argentina.
Meski memiliki pemain berkualitas, jarak performa masih terasa jelas dan tak bisa diabaikan.
“Brasil punya pemain bagus, tetapi masih jauh dari level tertinggi. Kita harus sadar, namun tidak boleh puas,” ujarnya dilansir dari O Globo.
Hasil imbang melawan Maroko di laga pembuka memperlihatkan kelemahan tim, terutama dalam keseimbangan permainan.
Keputusan Ancelotti mengandalkan pemain kepercayaannya, seperti Casemiro, juga menjadi sorotan.
Skema dengan dua gelandang dan empat pemain depan dinilai rapuh karena sangat bergantung pada energi dan intensitas tinggi.
Perbandingan dengan Prancis semakin memperjelas perbedaan kualitas, khususnya dalam bertahan.
Saat lini belakang Brasil sibuk memadamkan serangan, Prancis justru mampu mencegah ancaman sejak awal.
