-
Timnas Iran mengalami kelelahan ekstrem akibat dilarang mendirikan basis latihan di Amerika Serikat.
-
Pelatih Amir Ghalenoei mengecam perlakuan diskriminatif dan ketatnya pengawasan keamanan selama transit.
-
FIFA dinilai gagal menepati janji untuk memberikan kesetaraan akomodasi bagi skuad Iran.
Suara.com - Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit di atas lapangan, tetapi juga memunculkan polemik di luar pertandingan. Timnas Iran menjadi salah satu peserta yang merasa menghadapi perlakuan berbeda selama mengikuti turnamen terbesar di dunia tersebut ketimbang negara lain.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, secara terbuka meluapkan kekecewaannya terhadap kondisi yang harus dijalani Team Melli sepanjang fase grup.
Ia bahkan menyoroti minimnya dukungan dari negara-negara peserta lain yang menurutnya memilih diam meski mengetahui situasi yang dialami Iran.

Masalah bermula dari kebijakan yang membuat Iran tidak bisa menjadikan Amerika Serikat sebagai basis selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Padahal sebagian pertandingan digelar di negeri tersebut.
Akibatnya, skuad Iran harus menetap di Meksiko dan melakukan perjalanan bolak-balik ke Amerika Serikat setiap kali menjalani pertandingan. Situasi ini dinilai sangat mengganggu persiapan tim karena menguras tenaga dan waktu para pemain.
Kondisi paling sulit terjadi saat Iran menghadapi Selandia Baru pada laga pembuka. Saat itu, skuad asuhan Amir Ghalenoei dikabarkan baru tiba di Amerika Serikat beberapa jam sebelum pertandingan dimulai.
![Dua pemain Timnas Iran dilaporkan mengalami kendala serius saat proses keberangkatan di bandara Amerika Serikat usai laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Selandia Baru. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/16/70947-timnas-iran.jpg)
Setelah laga berakhir, mereka juga tidak bisa langsung menetap untuk melakukan pemulihan atau persiapan berikutnya. Seluruh rombongan harus kembali meninggalkan wilayah Amerika Serikat dan kembali ke Meksiko.
Merasa dirugikan, Federasi Sepak Bola Iran kemudian menyampaikan keluhan kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Laporan yang beredar menyebut FIFA sempat menjanjikan bantuan agar kondisi persiapan Iran bisa lebih baik pada pertandingan selanjutnya.
Meski demikian, perubahan yang diberikan dinilai belum cukup signifikan. Menjelang duel melawan Belgia, Iran memang memperoleh sedikit kelonggaran.
Namun, Mehdi Taremi dan kolega tetap hanya diizinkan berada di Amerika Serikat sekitar 16 jam sebelum pertandingan berlangsung.
Tak hanya persoalan waktu, Iran juga disebut berada dalam pengawasan ketat selama berada di wilayah Amerika Serikat.
Kombinasi berbagai kendala tersebut membuat Ghalenoei merasa timnya tidak mendapatkan perlakuan yang setara dengan 47 peserta lainnya.
Karena itu, pelatih berusia 63 tahun tersebut berharap ada solidaritas dari sesama pelatih peserta Piala Dunia 2026. Namun hingga kini, harapan tersebut belum terwujud.
“Saya meminta kepada 47 pelatih lainnya, dan tidak satu pun dari mereka yang menjawab saya," kata Amir Ghalenoei dikutip Yahoonews.
"Kami di sini untuk sepak bola, bukan politik, dan kita menegaskan itu lagi. Keluhan kita adalah tentang cara mereka memperlakukan kami," jelasnya.
