-
Ketenangan pelatih Carlo Ancelotti membakar mentalitas skuad Brasil untuk bangkit menumbangkan perlawanan ketat Jepang.
-
Perubahan taktik dan keputusan mempertahankan Casemiro menjadi kunci penting kemenangan comeback Timnas Brasil.
-
Hasil krusial ini menjadi kemenangan comeback pertama Brasil di fase gugur sejak Piala Dunia 2002.
Suara.com - Ketenangan berkelas dari Carlo Ancelotti berhasil menyelamatkan muka Brasil dari ancaman memalukan di babak gugur Piala Dunia 2026. Ketegaran sang arsitek veteran terbukti ampuh membakar mentalitas bertanding anak asuhnya yang sempat buntu saat meladeni perlawanan ketat Jepang.
Seleção memperlihatkan transformasi mental yang luar biasa selepas turun minum setelah sempat tertinggal pada paruh pertama. Formula psikologis yang disuntikkan Ancelotti di ruang ganti menjadi titik balik krusial yang meloloskan timnya ke babak 16 besar.
Keberhasilan ini memecahkan rekor kebuntuan sejarah sepak bola mereka di fase krusial. Ini menjadi kemenangan comeback pertama Brasil di fase gugur Piala Dunia sejak mereka menumbangkan Inggris 2-1 pada edisi Korea/Jepang 2002 silam.
![Brasil menundukkan Skotlandia 3-0 pada pertandingan terakhir Grup C Piala Dunia 2026 di Miami Stadium, Amerika Serikat, Kamis (25/6/2026). [Europa Press Sports/Europa Press/Getty Images]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/25/99673-timnas-brasil.jpg)
"Kami tidak kehilangan kesabaran. Hal-hal sudah berjalan baik di babak pertama. Di babak kedua, kami melepaskan lebih banyak umpan silang [ke dalam kotak penalti]. Kami memiliki banyak opsi di lapangan dan di bangku cadangan. Jepang bukanlah lawan yang mudah, mereka terorganisasi dengan baik, sangat intens," ujar Ancelotti seusai laga, dikutip dari laman FIFA, Selasa (30/6/2026).
"Anda melakukan kesalahan dalam sepak bola. Mustahil untuk tidak membuat kesalahan, karena tidak ada yang sempurna. Namun kami tahu bagaimana cara untuk terus berjalan. Itulah yang dilakukan tim dengan sangat baik di babak kedua. Tidak ada yang mengira bahwa kami akan gagal mencetak gol. Sisi mental adalah hal yang penting. Merupakan hal yang normal untuk menderita. Itu bukan hal baru, terutama dalam permainan modern. Penderitaan sama normalnya dengan [merasakan] kelegaan."
Keputusan berani diambil sang pelatih asal Italia saat jeda pertandingan demi meruntuhkan pertahanan berlapis lawan. Lucas Paqueta yang mengalami cedera ditarik keluar untuk memberikan ruang kepada penyerang muda, Endrick.
Masuknya darah muda ini langsung menambah daya gedor di area penalti musuh yang dijaga ketat oleh 5 bek sejajar. Dampak instan pergantian tersebut dirasakan langsung oleh gelandang Bruno Guimaraes yang merasa ruang gerak timnya menjadi lebih terbuka.
"Itu sangat padat dan kami tidak memiliki ruang untuk memainkan [permainan kami]. Mereka bertahan, secara efektif, dalam formasi 5-4-1, membuat kami sulit untuk menembus. Di babak kedua, pelatih menyuruh kami untuk lebih memaksakan diri dan menempatkan lebih banyak orang di kotak penalti, dan dari sanalah gol itu tercipta."
Keputusan ekstrem lain yang menunjukkan kematangan Ancelotti adalah tetap mempertahankan Casemiro di lapangan pertandingan. Sang gelandang bertahan tetap dipercaya tampil penuh kendati sudah mengantongi kartu kuning sejak menit ke-14.
Kepercayaan penuh tersebut dibayar tuntas oleh bintang Manchester United itu lewat gol penyeimbang pada menit ke-56. Pilihan berisiko tinggi ini membuktikan bahwa intuisi tajam seorang pelatih berpengalaman sering kali melampaui statistik di atas kertas.
"Di babak kedua, Ancelotti meminta ketenangan sekali lagi. Di antara hal-hal lain, dia bersikeras agar kami tetap tenang, karena kami menekan dan bermain tinggi di lapangan, sehingga peluang akan datang. Tim layak mendapatkan pujian khususnya untuk mentalitas kami. Kami terus menekan dan menyerang," ungkap Casemiro.
Gaya bermain Seleção pada paruh kedua menampilkan kontradiksi yang menarik antara urgensi tinggi dan kesabaran yang terjaga. Kombinasi unik inilah yang memaksa lini pertahanan disiplin wakil Asia tersebut akhirnya harus kocar-kacir.
Para pemain sayap bertindak lebih agresif namun tetap berkepala dingin saat mengalirkan bola ke sepertiga akhir lapangan. Keyakinan untuk membalikkan kedudukan sudah tertanam kuat sejak instruksi jeda babak pertama diberikan.
"Dia menyuruh kami untuk bersabar, karena kami adalah tim yang selalu ingin mengendalikan permainan, untuk mencetak [gol]. Kami tahu kami akan membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang." kata penyerang sayap Brasil, Rayan.
Penyerang Matheus Cunha juga sepakat bahwa rasa urgensi yang terkendali menjadi pembeda utama performa mereka. Perubahan sikap di lapangan membuat taktik yang gagal pada babak pertama justru menjadi senjata mematikan di babak kedua.
