- Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan permintaan maaf resmi di Maroko setelah rencana penjualan hak komersial FFE ditolak banyak pihak.
- Tekanan keras dan ancaman boikot dari berbagai konfederasi sepak bola dunia membuat FIFA akhirnya memutuskan untuk membatalkan proyek tersebut.
- Dewan Manajemen FIFA tetap memberikan dukungan penuh kepada Gianni Infantino meskipun posisinya sempat didesak mundur oleh konfederasi tertentu.
Meski proposal telah dibatalkan, polemik yang muncul berdampak pada kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Gianni Infantino.
Isu tersebut memicu desakan dari sejumlah pihak agar Presiden FIFA itu mengundurkan diri dari jabatannya.
Namun, hasil rapat darurat di Rabat justru menunjukkan dukungan penuh terhadap Infantino.
Dalam surat yang sama, Mattias Grafstrom bersama Dewan Manajemen FIFA menyatakan tetap mendukung kepemimpinan presiden FIFA tersebut.
FIFA juga menegaskan pembatalan proyek FIFA Forward Enterprise menjadi akhir dari polemik yang berkembang.
Organisasi tersebut menyatakan tidak akan mentoleransi berbagai bentuk serangan terhadap integritas FIFA.
Selain itu, FIFA menegaskan bahwa proposal pembentukan FFE tidak melanggar regulasi organisasi.
Pernyataan tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa FIFA telah mengambil langkah yang bertentangan dengan aturan internal.
Meski masih mendapat dukungan dari jajaran pimpinan FIFA, posisi Gianni Infantino belum sepenuhnya aman.
UEFA dan CONCACAF disebut tetap menjadi dua konfederasi yang paling vokal menginginkan perubahan kepemimpinan di tubuh FIFA.
Sesuai mekanisme organisasi, sedikitnya 106 asosiasi anggota FIFA harus memberikan dukungan terhadap mosi pemberhentian presiden.
Hingga kini jumlah tersebut belum terpenuhi sehingga Infantino masih tetap menjabat sebagai Presiden FIFA.
Permintaan maaf yang disampaikan Gianni Infantino diharapkan menjadi langkah awal untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap FIFA.
Organisasi sepak bola dunia itu juga berharap perhatian kembali tertuju pada pengembangan sepak bola global setelah polemik yang sempat mengguncang internal federasi.