- Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan permintaan maaf resmi di Maroko setelah rencana penjualan hak komersial FFE ditolak banyak pihak.
- Tekanan keras dan ancaman boikot dari berbagai konfederasi sepak bola dunia membuat FIFA akhirnya memutuskan untuk membatalkan proyek tersebut.
- Dewan Manajemen FIFA tetap memberikan dukungan penuh kepada Gianni Infantino meskipun posisinya sempat didesak mundur oleh konfederasi tertentu.
Suara.com - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka setelah polemik mengenai rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia melalui pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).
Itu setelah terjadi gelombang penolakan dari berbagai pihak kecuali PSSI pimpinan Erick Thohir.
Permintaan maaf itu tertuang dalam surat resmi yang ditandatangani bersama Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, usai rapat darurat yang digelar di Rabat, Maroko beberapa waktu lalu.
Surat tersebut menjadi pernyataan publik pertama Infantino sejak proposal kontroversial itu diumumkan hingga akhirnya dibatalkan.
![Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru mengungkap lonjakan gajinya yang signifikan. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/09/11297-gianni-infantino.jpg)
Dalam surat tersebut, Infantino mengakui FIFA melakukan sejumlah kesalahan selama proses pembahasan proposal.
Salah satunya ketika dokumen mengenai rencana tersebut bocor ke media.
"Kami mengakui kesalahan juga terjadi setelah proposal tersebut bocor ke media. Kami dengan tulus meminta maaf atas kesalahan itu dan berkomitmen agar hal seperti ini tidak terjadi lagi," demikian bunyi surat resmi FIFA.
Selain menyampaikan permintaan maaf, FIFA memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengambilan keputusan terkait proposal FIFA Forward Enterprise.
Hasil evaluasi itu nantinya akan dipresentasikan dalam rapat Dewan FIFA berikutnya sebagai bahan perbaikan tata kelola organisasi.
Kontroversi bermula ketika FIFA mengusulkan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan yang dirancang untuk mengelola aspek komersial dan operasional turnamen FIFA.
Dalam proposal tersebut, FIFA juga berencana melepas 20 persen saham perusahaan kepada investor swasta.
Rencana tersebut langsung memicu penolakan dari sejumlah konfederasi sepak bola.
UEFA, CONCACAF, hingga Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menjadi pihak yang paling keras menyuarakan keberatan terhadap proposal tersebut.
Bahkan, UEFA sempat mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila rencana tersebut tetap dijalankan.
Besarnya tekanan dari berbagai pihak akhirnya membuat FIFA memutuskan membatalkan proyek tersebut.
Meski proposal telah dibatalkan, polemik yang muncul berdampak pada kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Gianni Infantino.
Isu tersebut memicu desakan dari sejumlah pihak agar Presiden FIFA itu mengundurkan diri dari jabatannya.
Namun, hasil rapat darurat di Rabat justru menunjukkan dukungan penuh terhadap Infantino.
Dalam surat yang sama, Mattias Grafstrom bersama Dewan Manajemen FIFA menyatakan tetap mendukung kepemimpinan presiden FIFA tersebut.
FIFA juga menegaskan pembatalan proyek FIFA Forward Enterprise menjadi akhir dari polemik yang berkembang.
Organisasi tersebut menyatakan tidak akan mentoleransi berbagai bentuk serangan terhadap integritas FIFA.
Selain itu, FIFA menegaskan bahwa proposal pembentukan FFE tidak melanggar regulasi organisasi.
Pernyataan tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa FIFA telah mengambil langkah yang bertentangan dengan aturan internal.
Meski masih mendapat dukungan dari jajaran pimpinan FIFA, posisi Gianni Infantino belum sepenuhnya aman.
UEFA dan CONCACAF disebut tetap menjadi dua konfederasi yang paling vokal menginginkan perubahan kepemimpinan di tubuh FIFA.
Sesuai mekanisme organisasi, sedikitnya 106 asosiasi anggota FIFA harus memberikan dukungan terhadap mosi pemberhentian presiden.
Hingga kini jumlah tersebut belum terpenuhi sehingga Infantino masih tetap menjabat sebagai Presiden FIFA.
Permintaan maaf yang disampaikan Gianni Infantino diharapkan menjadi langkah awal untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap FIFA.
Organisasi sepak bola dunia itu juga berharap perhatian kembali tertuju pada pengembangan sepak bola global setelah polemik yang sempat mengguncang internal federasi.