- Media Inggris The Times melaporkan Presiden FIFA Gianni Infantino diduga menawarkan jatah final Piala Dunia 2030 kepada Maroko.
- Tawaran tersebut dilakukan untuk memperoleh dukungan tertulis demi mempertahankan jabatannya pada pemilihan Mei 2027 mendatang.
- Posisi Infantino terancam akibat penolakan luas dari berbagai konfederasi atas rencana bisnisnya melibatkan investor swasta.
Suara.com - Presiden FIFA Gianni Infantino kembali diterpa kontroversi serius.
Gianni Infantino dituding mencoba menyuap Federasi Sepak Bola Maroko demi mempertahankan jabatannya sebagai orang nomor satu di FIFA.
Laporan tersebut diungkap media Inggris The Times.
Dalam laporan itu disebutkan Infantino menawarkan jatah final Piala Dunia 2030 kepada Maroko sebagai imbalan atas dukungan tertulis.
Langkah ini disebut sebagai upaya terakhir Infantino di tengah tekanan global yang terus membesar.
Posisi pria asal Swiss itu memang sedang terancam setelah rencana bisnisnya menuai penolakan luas.
![Jelang drawing Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Kennedy Center, Washington D.C. diwarnai kritik tajam soal hubungan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presien FIFA, Gianni Infantino. [Instagram Getty Images via BBC]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/04/33995-gianni-infantino.jpg)
Sebelumnya, Infantino menggagas masuknya investor swasta ke dalam pengelolaan turnamen besar FIFA.
Namun, rencana tersebut gagal total dan memicu kritik keras dari berbagai konfederasi.
UEFA dan CONCACAF menjadi pihak paling vokal menentang kebijakan tersebut. Tak lama, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga ikut menyatakan sikap serupa.
Dalam situasi genting, Infantino menggelar pertemuan darurat dengan pejabat penting Federasi Sepak Bola Maroko.
Maroko diketahui menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal.
Menurut jurnalis The Times, Martyn Ziegler, Infantino belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur.
Ia justru disebut melakukan berbagai cara untuk mengamankan posisinya.
Salah satunya dengan menawarkan final Piala Dunia 2030 digelar di Stadion Hassan II yang baru di Casablanca.
Tawaran itu diduga sebagai imbalan politik untuk mendapatkan dukungan Maroko.