- Timnas Indonesia gagal ke semifinal Piala AFF 2026 usai imbang lawan Singapura, Jumat malam.
- Pengamat Anton Sanjoyo menilai kegagalan tersebut sebagai ujian penting menuju target utama Piala Asia 2027.
- PSSI direkomendasikan mempertahankan pelatih John Herdman, namun ia harus segera mengevaluasi taktik dan komunikasi.
Suara.com - Kandasnya langkah Timnas Indonesia di babak grup Piala AFF 2026 memicu gelombang kritik. Namun, pengamat sepak bola nasional, Anton Sanjoyo, menilai kegagalan ini harus dilihat sebagai alarm sekaligus ujian dalam membangun skuad menuju target yang lebih besar, Piala Asia 2027.
Indonesia dipastikan gagal melaju ke semifinal setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 kontra Singapura di Stadion Jalan Besar, pada Jumat (7/8) malam.
Lemahnya kedalaman skuad menjadi sorotan tajam dalam laga tersebut.
"Sejak John Herdman menangani tim pada Januari 2026, saya selalu menekankan bahwa tolok ukur utama adalah Piala Asia, bukan Piala AFF," kata Anton Sanjoyo dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Anton meminta suporter Garuda tidak larut dalam kekecewaan dan melihat perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, level elite Asia merupakan medan tempur yang sangat berbeda dibanding AFF.
Menghadapi raksasa seperti Jepang, Korea Selatan, atau Australia, kualitas teknik dan strategi Timnas harus berada jauh di atas standar Asia Tenggara.
Karena itu, ia merekomendasikan PSSI untuk tetap mempertahankan John Herdman demi menjaga stabilitas tim.
"Proses itu masih berjalan, dan pergantian pelatih hanya akan merusak fondasi yang sedang dibangun," tegas mantan jurnalis senior tersebut.
![Pesepak bola Timnas Indonesia berfoto bersama sebelum melawan Vietnam pada pertandingan Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/8/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/mrh/wsj]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/04/50705-piala-aff-2026-timnas-indonesia-vs-vietnam-skuad-timnas-indonesia.jpg)
Evaluasi Taktik dan Komunikasi
Meski mendukung keberlanjutan pelatih, Anton memberikan catatan keras. Herdman diminta berhenti bersantai dan segera meracik ulang strategi yang sesuai dengan sumber daya pemain lokal.
Salah satu yang disorot adalah efektivitas formasi tiga bek.
"Herdman harus bekerja lebih keras dan tidak boleh bersantai. Pelatih asal Inggris itu perlu meracik ulang strategi yang paling pas dengan sumber daya pemain yang ada. Skema seperti 3-4-3, menurutnya, harus dievaluasi ulang jika kualitas bek tengah yang tersedia tidak memenuhi syarat," lanjutnya.
Selain taktik, komunikasi dengan pelatih klub Liga Super dan Divisi Satu menjadi kewajiban. Hal ini penting untuk memantau bakat-bakat lokal secara akurat.
"Herdman dibayar mahal untuk membawa timnas bersaing di level elite Asia. Waktu menuju Piala Asia semakin sempit. Sekarang saatnya bagi Herdman untuk membuktikan kapasitasnya dalam meramu strategi dan memaksimalkan potensi pemain Indonesia," pungkas Anton. (Antara)