Kajian Muslim, Soal Tantangan Pendidikan Akhlaq di Dunia Pendidikan Islam

Suara Cianjur

Selasa, 27 September 2022 | 06:48 WIB
Kajian Muslim, Soal Tantangan Pendidikan Akhlaq di Dunia Pendidikan Islam
Ustadz Moch. Fadlani Salam (Foto Istimewa - Dok Pribadi)

Gelombang Postmodernisme dan Hellenisme yang melanda dunia, kini telah terasa dalam berbagai bidang kehidupan. Gelombang ini ditunggangi oleh gerakan liberalisme dalam setiap bidang.

Kandungan Postmodernisme dan Hellenisme ini memilki perbedaan, yang menjadi karakter utama postmo diantaranya adalah semangat dalam menyebarkan faham plularisme, menerapkan sikap demokratis dalam segala bidang, meletakkan fundamentalisme religius sebagai musuh bersama serta melakukan dekonstruksi dengan cara mengkritisi masa lalu.

Postmodernisme yang digerakkan oleh para pendukung faham liberalisme ini secara diam-diam dinyatakan telah masuk kedalam ranah Pendidikan Islam. Berbagai strategi banyak dilakukan, misalnya, pendidikan agama dituduh telah gagal.

Gagal bukan dalam arti tidak menghasilkan lulusan yang berkualitas, namun gagal menghasilkan manusia yang dapat menjadi anggota masyarakat sipil (civil society). Masyarakat sipil adalah masyarakat yang memegang nilai-nilai plularisme, demokratisasi, equality, kesetaraan gender dan berkarakter. Itu semua merupakan program dalam gerakan liberalisme yang telah menjadi pandangan hidup, yang berasal dari sistem ideologi Barat, yang selalu berhadapan dengan Islam. 

Dalam buku The End of History and The Last Man, Fukuyama menganggap Islam sejajar dengan ideologi Liberalisme dan Komunisme. Fukuyama memprediksi bahwa Islam akan lebih lemah dalam menghadapi liberalisme. Sebab liberalisme telah memukau banyak pengikut Islam yang kuat. 

Namun disamping itu, Islam sebagai agama ”rahmatan lil alamin” adalah agama yang diturunkan untuk membawa perubahan bagi umat manusia. Salah satu dari perubahan itu adalah melalui pendidikan Islam. Perkembangan Pendidikan Islam sejak awal telah mengalami pasang surut, mulai dari masa keemasan, masa stagnasi, masa perkembangan, sinkronisasi dan integrasi pendidikan Islam dengan pendidikan modern. Sejarah keberadaan pendidikan dalam Islam ini sangat berkaitan erat dengan perkembangan dan kemunduran peradaban kaum muslimin.

Pendidikan merupakan salah satu senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia seperti yang dikatakan Nelson Mandela. Pendidikan membawa seorang manusia untuk menjadi manusia yang seutuhnya, sehingga ia dapat memanusiakan manusia yang lainnya. Kemajuan sebuah negara juga dapat dilihat dari seberapa maju negara tersebut dalam mengelola sistem pendidikan dan menghasilkan manusia-manusia seutuhnya yang berkontekskan dengan keadaan negara tersebut.

Di republik yang kita cintai ini, upaya untuk merekonstruksi kurikulum Pendidikan Islam dengan berbagai macam pendekatan telah dilakukan, bahkan oleh umat muslim sendiri. Diantaranya adalah kurikulum berbasis multikulturalisme, kurikulum berbasis kesetaraan gender, kurikulum pendidikan berkarakter, dan lain sebagainya. Semua itu merupakan respon affimatif terhadap ide-ide dari gelombang postmodernisme.

Mari kita tafakuri, misalnya ketika gencar pendidikan berkarakter yang diterapkan di Indonesia, konsep yang ditawarkan dari Barat ini, konsepnya sangat berbeda dengan konsep pendidikan akhlaq yang ada dalam Islam. Sesungguhnya jika konsepnya sejalan dengan pendidikan akhlaq yang ada dalam Islam, maka itu tidak akan lagi menjadi bagian akar permasalahan. 

baca juga

Pada Pendidikan karakter tersebut, dari pengertian karakternya, dapat di identifikasi tidak adanya aspek kualitas kesalehan atau ketinggian akhlaq. Karakter hanya difahami sebagai kombinasi dari kualitas-kualitas yang membedakan seseorang atau kelas seseorang; pertanda sifat-sifat kolektif yang dimiliki oleh seseorang, kelompok, atau ras; kepribadian yang merupakan produk dari alam dan lingkungan, dan kekuatan moral (Lihat: The New International Webster’s Comprehensive Dictionary of English Language).

Akademisi dan Ustadz Moch. Fadlani Salam [Foto Istimewa - Dok Pribadi]
Akademisi dan Ustadz Moch. Fadlani Salam (sumber: Foto Istimewa - Dok Pribadi)

Pada umumnya para ilmuwan Barat berbicara pendidikan karakter (character education) dalam konteks tiga landasan teori yaitu: kognitif, domain psikologi, dan domain sosial. Ketiga landasan teori menentukan bagaimana pendekatan yang harus digunakan untuk mengembangkan pendidikan karakter.

Kemudian dari pendekatan landasan teori kognitif dimaknailah “Pendidikan Moral” (moral education) yang difahami sebagai kesadaran, bukan perilaku. Yang mana kesadaran moral alami diharapkan dapat mengontrol perilaku.

Namun perilaku apa saja yang dapat dikontrol dalam pendidikan karakter ini. Konsekuensinya, yang dihasilkan dari pengertian ini, juga teori yang lainnya dalam pendidikan karakter adalah dimungkinkannya orang atheis masuk dalam kriteria manusia berkarakter meskipun anti- Tuhan dan anti-Agama.

Alhasil, para ilmuwan Barat tidak dapat mencapai kesepakatan tentang tujuan pendidikan karakter. Sebab masih ada yang hanya menekankan pada keharmonisan komunitas dan ada pula yang mengutamakan pada perkembangan jiwa tiap-tiap individu walau itu berkonsekuensi pada relativitas nilai.

Di sini sikap yang tepat diperlukan dari seorang muslim ialah bukan menjustifikasi pendidikan karakter, namun menyuguhkan konsep  tandingan yang berasal dari konsep-konsep kunci dalam Islam yang lebih komprehensif, yang telah diungkapkan oleh para ulama. Beberapa ulama yang masyhur dalam dunia pendidikan antara lain Ibn Sina, al-Ghazali, dan Ibn Khaldun, mengemukakan konsep yang berisi pendidikan akhlaq.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kata Ustadz Khalid Basalamah Api Neraka Tidak akan Menyentuh Tangisan Air Mata, Maksudnya?

Kata Ustadz Khalid Basalamah Api Neraka Tidak akan Menyentuh Tangisan Air Mata, Maksudnya?

Cianjur | Senin, 26 September 2022 | 16:32 WIB

Jangan Pernah Pelihara Penyakit yang Satu Ini, Bisa Bikin Orang Halalkan Kejahatan dan Haram

Jangan Pernah Pelihara Penyakit yang Satu Ini, Bisa Bikin Orang Halalkan Kejahatan dan Haram

Cianjur | Rabu, 21 September 2022 | 15:07 WIB

Renungan Islam: Catatan Bagi Perilaku dan Seorang Pemimpin Dalam Mengemban Amanah Tugas

Renungan Islam: Catatan Bagi Perilaku dan Seorang Pemimpin Dalam Mengemban Amanah Tugas

Cianjur | Rabu, 07 September 2022 | 16:10 WIB

Terkini

Pemerintah Siapkan Tiga Skema Pembayaran PPPK di Daerah, Pastikan Tak Ada yang Dirumahkan

Pemerintah Siapkan Tiga Skema Pembayaran PPPK di Daerah, Pastikan Tak Ada yang Dirumahkan

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:25 WIB

7 Cara Membersihkan Rice Cooker yang Benar agar Tidak Bau dan Tetap Awet

7 Cara Membersihkan Rice Cooker yang Benar agar Tidak Bau dan Tetap Awet

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:23 WIB

Saat AI Jadi Senjata Baru Gaming, Palit RTX 5060 Ti Bawa GDDR7 hingga 16GB

Saat AI Jadi Senjata Baru Gaming, Palit RTX 5060 Ti Bawa GDDR7 hingga 16GB

Tekno | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:22 WIB

Drama Utang Rp300 Juta di Sampang: Hayat yang Disekap dan Dianiaya Tetangga Sendiri

Drama Utang Rp300 Juta di Sampang: Hayat yang Disekap dan Dianiaya Tetangga Sendiri

Jatim | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:22 WIB

Mulai Ada di Toko Optik, Mengenal Cara Kerja Skrining Retina untuk Deteksi 8 Penyakit Kronis

Mulai Ada di Toko Optik, Mengenal Cara Kerja Skrining Retina untuk Deteksi 8 Penyakit Kronis

Health | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:22 WIB

Dasco dan Muhadjir Effendy Bertemu, Upayakan Perpendek Masa Tunggu Jemaah Haji

Dasco dan Muhadjir Effendy Bertemu, Upayakan Perpendek Masa Tunggu Jemaah Haji

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:16 WIB

Bank BJB Diduga 'Kondisikan' Hasil Audit BPK Terkait Pengadaan Iklan

Bank BJB Diduga 'Kondisikan' Hasil Audit BPK Terkait Pengadaan Iklan

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:16 WIB

Profil dan Jejak Karier Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI Usulan Prabowo

Profil dan Jejak Karier Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI Usulan Prabowo

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:14 WIB

Malam Kelam di Sungai Burung, Nelayan Muda yang Hilang Ditemukan Tak Bernyawa

Malam Kelam di Sungai Burung, Nelayan Muda yang Hilang Ditemukan Tak Bernyawa

Lampung | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:13 WIB

Lingkungan Rusak Bukan karena Tak Tahu, tetapi karena Tak Dibiasakan

Lingkungan Rusak Bukan karena Tak Tahu, tetapi karena Tak Dibiasakan

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:10 WIB

×