Namun, pria kikir tersebut memiliki putra yang sifatnya dermawan. Mengetahui hal tersebut ia langsung memberikan serantang beras kepada tetanngganya.
Dilain waktu saat pria kikir tersebut sedang mengadakan tradisi kendur, ia didatangi seorang perempuan tua untuk meminta bahan makanan.
Lagi-lagi pria kikir tersebut menolak, dan anaknya lah yang akhirnya menolong perempuan tua tersebut.
Saat sang anak memberikan makanan, perempuan tua tersebut memberitahunya agar meninggalkan daerah tersebut saat malam tiba karena akan terjadi hujan besar.
Saat malam tiba, semua masyarakat di daerah setempat diberitahu sang anak untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Namun, hanya ayahnya lah satu-satunya orang yang tidak mau pergi lantaran tidak rela meninggalkan kekayaanya.
Masyarakat yang mengikuti anjuran sang anak pria kikir selamat dari bencana banjir lantaran hujan deras tersebut, sedangkan ayah sang anak tenggelam beserta harta kekayaannya.
Konon, sejak saat itulah daerah tersebut diberi nama Cianjur. Ci adalah cai dalam bahasa Sunda yang berart air. Sedangkan, Anjur artinya anjuran atau seruan (*)