Deli.Suara.com - Perubahan yang cukup siginifikan dalam proses Seleksi Bersama Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri atau SBMPTN adalah penghapusan tes mata pelajaran menjadi tes skolastik.
Tes skolastik nantinya akan mengacu pada ujian terkait kemampuan bernalar, pemecahan masalah, hingga potensi kognitif seorang calon mahasiswa.
Selain itu juga akan dimunculkan tes literasi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, namun bukan dalam konteks gramatika.
Setiap tes yang masuk dalam tes skolastik ini berusaha memetakan kemampuan calon mahasiswa secara mendasar dalam menggunakan nalar berpikir guna memecahkan masalah. Jadi, tidak ada lagi problem menghafal materi pelajaran tertentu untuk dapat menyelesaikan tes SBMPTN.
Secara mendasar kemampuan skolastik setiap calon mahasiswa dapat diasumsikan setara, sehingga persaingan yang terjadi tidak kemudian melibatkan faktor eksternal seperti dukungan bimbel atau sejenisnya. Hal ini diperkirakan dapat menjadi penerapan keadilan dalam seleksi tersebut.
Tes skolastik sendiri memiliki perbedaan yang masih jika dibandingkan dengan tes mata pelajaran. Jika tes mata pelajaran berfokus pada hafalan materi masing-masing mata pelajaran, maka tes skolastik akan fokus pada kemampuan dasar dari seorang calon mahasiwa.
Dengan begini, pemerataan dan kesetaraan bisa diperjuangkan. Pasalnya, ketika tes difokuskan pada mata pelajaran, siswa yang memiliki kemampuan mengikuti bimbingan belajar mendapatkan keuntungan lebih besar dalam seleksi masuk PTN, karena persiapan yang dilakukan lebih terarah.
Berupaya mewujudkan calon mahasiswa yang dapat berpikir kritis, menemukan pemecahan masalah, serta tidak sekadar penghafal saja, tes ini dinilai menjadi salah satu tes yang paling tepat untuk melakukan proses seleksi.
Dalam modul yang diberikan oleh Mendikbudristek tersebut, setidaknya ada 3 aturan baru dalam penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi negeri.
Seleksi nasional berdasarkan prestasi, yang melakukan pemeringkatan berdasarkan:
1. Minimal 50 persen rata-rata rapor seluruh mata pelajaran
2. Maksimal 50 persen komponen penggali minat dan bakat (nilai rapor maksimal 2 mata pelajaran pendukung program studi, dan/atau prestasi, dan/atau portofolio untuk program studi seni dan olahraga).
Seleksi nasional berdasarkan tes, digunakan tes skolastik yaitu tes tanpa mata pelajaran yang mengukur:
1. Potensi kognitif
2. Penalaran matematika