Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu tak terima mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dicap melakukan politik identitas. Apalagi, cap politik identitas itu telah melekat pada Anies sejak Pemilihan Gubernur atau Pilgub DKI 2017 hingga sekarang.
Hal tersebut diutarakan Said Didu lewat akun Twitter resminya @msaid_didu. Ia menilai bahwa bakal capres 2024 dari Koalisi Perubahan itu sama sekali tidak pernah melakukan politik identitas.
"Sejak pilgub DKI 2017 sampai saat ini, kalian berikan cap politik identitas kepada pak Anies Baswedan. Padahal faktanya beliau tidak pernah melakukan hal tersebut," cuit Said Didu pada Kamis (8/6/2023).
Menurutnya, pemberi cap itulah yang justru melakukan politik identitas. Memainkan isu politik identitas, lanjut Said Didu, dinilai sebagai upaya untuk memojokkan kelompok mayoritas.
"Sementara kalianlah yang melakukan politik identitas. Sepertinya hal tersebut dilakukan adalah untuk memojokkan kelompok mayoritas," sambungnya.
Pendapat Said Didu yang menolak Anies dicap politik identitas langsung menuai perdebatan warganet. Lewat kolom komentar, warganet memberikan beragam pendapat tentang sosok Anies hingga menyoroti pernyataan Said Didu.
"Benar pak Said Didu, gerombolan Ahok Basuki Tjahaja Purnama yang memainkan politik identitas dan mereka menuduhnya ke Anies Baswedan. Ane warga DKI Jakarta adalah saksi sejarah melihat situasi Pilgub DKI tahun 2017 tersebut. Anies-Sandi tidak memainkan politik identitas," tulis warganet.
"Ahh om Didu mah bercanda mulu, padahal dalam hati ngaku kalau Anies dan teamnya melakukan politik identitas saat Pilgub DKI 2017," komentar warganet.
"Kalau Anies gak terlibat aneh. Ia menikmati pendukung-pendukungnya yang menggunakan politik identitas dan SARA di masjid-masjid untuk mengalahkan Ahok! Catatan Pilkada paling brutal," sorot warganet.
Baca Juga: Percepat Target Eliminasi Tuberkulosis di 2030, Dinkes Sleman Gelar Workshop SIKAT TB
"Anda ini kurang waras Didu, masak iya kelompok mayoritas bisa disudutkan oleh minoritas. Cara berfikir Anda ngaco," kritik warganet.
"Memojokkan kelompok mayoritas? Logikanya gimana sih, pak? Masa minoritas bisa pojokkan mayoritas?" tanya warganet.