Suara Denpasar – Kisah hidup Ferdy Sambo berakhir menyakitkan. Dia akhirnya disanksi pecat atau pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) setelah sidang banding menolak permohonannya pada Senin, 19 September 2022.
Ketua Sidang Banding Komisi Kode Etik Polri (KKEP), Komjen Agung Budi Maryoto bersama empat hakim sidang banding secara bulat memutuskan Ferdy Sambo dipecat dari anggota Polri karena perbuatannya membunuh Brigadir Joshua serta menghalangi penyidikan sebagai perbuatan tercela.
“Memutuskan permohonan banding saudara pemohon banding, nama Ferdy Sambo […] Satu: menolak permohonan banding pemohon banding,” ucap Komjen Agung Budi Maryoto selaku ketua sidang banding KEPP, disiarkan lewat Youtube Polri TV.
Perjalanan Hidup Ferdy Sambo
Tanggal 9 Februari 1973, seorang bayi lahir di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, 100 kilometer di utara Kota Ujung Pandang. Ujung Pandang adalah nama Kota Makassar sebelum tahun 1999.
Bayi laki-laki itu kemudian diberi nama Ferdy Sambo. Sambo adalah nama marga, kebetulan dia dari keluarga, Toraja.
Masa pendidikan umumnya dihabiskan di Kota Ujung Pandang. Kelak nama kota ini berubah menjadi Makassar.
Ia memulai sekolah pada usia 6 tahun di SD Khatolik Mamajang, Ujung Pandang pada 1979. Selama enam tahun di bangku sekolah dasar, ia kemudian masuk ke SMPN 6 Ujung Pandang pada 1985 sampai 1988.
Saat menimba ilmu di SMPN 6 Ujung Pandang, Ferdy bertemu Putri Candrawathi, gadis keturunan Bali yang merupakan anak jenderal TNI. Mereka pun menjalin cinta. Cinta monyet, tentunya.
Baca Juga: Kisah Asmara Ferdy Sambo-Putri Candrawathi, Awalnya Cinta Monyet, Kini Terancam Menua di Penjara
"Mereka sudah dekat sejak di SMPN 6 itu," kata Ramlah Abdullah, pengurus Ikatan Alumni SMPN 6 Makassar.
Tahun 1988, Ferdy dan Putri lulus SMP. Mereka melanjutkan pendidikan di sekolah favorit di Ujung Pandang kala itu. Yakni SMAN 1 Ujung Pandang dari 1988 hingga 1991. Kini disebut SMAN 1 Makassar atau Smansa Makassar.
Andi Amiruddin Pallawa Rukka, teman sekolahnya mengingat Peppi, nama panggilan Ferdy Sambo, sebagai anak yang baik. Ia mengenal Ferdy yang aktif di ekstrakulikuler Taekwondo.
"Dia dikenal baik dan cerdas. Disiplin juga," kenang Amiruddin.
Hubungan antara Ferdy dan Putri masih berlanjut hingga SMA. Tapi, Agussalim Narwis mengingat, hubungan Ferdy dan Putri renggang setelah Ferdy lulus sebagai taruna Akpol pada 1991. Sedangkan Putri melanjutkan pendidikan sebagai dokter gigi.
Dalam hitungan tiga tahun, Ferdy Sambo akhirnya resmi menyandang inspektur polisi dua (Ipda) setelah lulus Akpol pada 1994. Ia pun mendapat tugas pertamanya sebagai perwira samapta (Pamapta) di Polres Metro Jakarta Timur pada 1995.