Suara Denpasar- Dedi Mulyadi yang biasa disapa kang Dedi bersama rombongan Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke perkebunan Pengalengan Jawa Barat.
Dalam kunjungan itu dia diterima pejabat terkait serta sejumlah staf perkebunan serta para petani milenial.
Saat audiensi tatap muka ini kang Dedi Mulyadi terlihat kecewa dengan penataan perkebunan tersebut.
Hal ini terlihat seperti dalam unggahan akun youtube KANG DEDI MULYADI CHANNEL pada Rabu (28/9).
Dalam video berjudul KUNJUNGAN KE PERKEBUNAN DI PANGALENGAN LIHAT WISATA KELAS DUNIA-KANG DEDI MALAH NGAMBEK, ini Kang Dedi terlihat banyak menyampaikan kritiknya terkait pengelolaan kawasan ini.
"Ini dan usaha milik negara saya harus kritis dan hati-hati," katanya.
Dia melihat wisata ini sudah tidak semenarik seperti yang dahulu dia lihat.
"Memang sudut pandangnya jadi subyektivitas saya, mudah-mudahan subyektifitas saya salah. Kesedihan saya hari ini adalah ketika ke Lembang dulu melihat hamparan kebun teh yang indah, sekarang berubah melihat hamparan yang tidak indah lagi, sehingga saya tidak mau pergi lagi, karena apa? Tidak ada yang bisa dilihat lagi, bangunannya berantakan," jelasnya dalam unggahan tersebut.
Dia mengaku sangat prihatin, terlebih aset ini adalah aset negara yang menurut dia seperti sangat mudah dialihkan pengelolaannya kepada sejumlah pengusaha.
Baca Juga: Lesti Kejora Polisikan Rizky Bilar, Apa Itu KDRT dan Berapa Ancaman Pidananya?
"Ini keprihatinan saya, mudah banget aset negara bergeser pada beberapa orang puluhan hentare, kalau rakyat dapat satu hektare saja ditangkap," terangnya.
Dia berharap pengelola selektif dalam mengalihkan aset pengelolaan kepada pengusaha.
"Saya kalau urusan alam dan lingkungan bapak bisa dilihat kita Komisi IV saklek, wisata komodo saja kita berani, artinya harus bersyukur punya anggota DPR yang konsen menjaga alam, dan hanya ada di Komisi IV benteng pertahanannya, karena kalau gak lepas," jelasnya.
"Saya ini orang Sunda sedih lihat tanah Sunda, sepanjang jalan pergi ke Bandung gak ada yang indah, jalannya macet, landscap rusak, penambangan di mana-mana, mana Tanah Parahyangan," jelasnya.
Menurutnya apa yang harus ditampilkan seharusnya untuk jangka panjang.
"Maaf bukan berarti menyebut perempuan, Kalau perempuan Sunda itu jadi model dia laku, jadi host dia laku, jadi bintang film laku, selamanya abadi jadi bintang, tapi kalau kemudin jadi PSK hanya 3 tahun bertahan besoknya kena penyakit. Hari ini hampir semua orang, memperlakukan Tanah Sunda, memperlakukan seperti PSK, kalau suatu saat ditinggalin orang tidak laku lagi, itu juga karena kesalahan pengambil kebijakan," ungkpanya.
Pernyataan Kang Dedy mendapatkan reaksi positif dari warganet, sebagian besar memberikan apresisai dan mengamini apa yang terjadi.
"Semangat pak saya pribumi Pangalengan selalu menjadi pendukung bapak, saya sebagai warga pribumi miris sekarang kebun teh banyak dijadikan wisata yang dulu Pangalengan mempunyai ciri khas pegunungan dengan pemandangan kebun teh, tapi sekarang sudah mulai banyak diambil alih orang asing dan dijadikan lahan bisnis. Pangalengan berbeda sekarang dengan yang dulu," jelas warganet di kolom komentar memberikan tanggapan. ***